Mata kuliah perancangan kontrak pun akhirnya kami mulai sebagai mata kuliah
pertama hari ini. Dosen yang mengajarkan kami mata kuliah ini sebenarnya adalah
seorang notaris yang cukup handal di kota ini, namun dia tetap terlihat
sederhana di mata mahasiswa-mahasiswanya.
Sebelum ia memulai kuliahnya hari ini, lima orang mahasiswa masuk ke ruangan kami dan ternyata mereka ingin melakukan kampanye untuk pemilihan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Hukum atau yang biasa kami sebut COLSA. Beliau dengan senyumnya mempersilahkan mahasiswa-mahasiswa tersebut untuk menyampaikan visi dan misi dari masing-masing kandidat tersebut.
Tidak lama setelah tanya jawab dan pemilihan, dosen kami pun melanjutkan tugasnya. "Anak-anak cukup sekian kelas kita hari ini, ini kelas terakhir kita dan saya punya pesan penting untuk kalian", kata dosen tersebut.
Mahasiswa pun bersorak karna kelas ini lebih cepat selesai dari wkatu yang sebenarnya. Dengan penuh antusias mahasiswa kelasku pun menanti pesan yang akan di sampaikan, mengingat pesen sebelum UAS itu pasti tentang kisi-kisi soal UAS yang nantinya keluar di ujian.
Tapi ternyata kami salah, salah besar. Pesan itu bukan mengenai kisi-kisi soal ujian, pesan ini mungkin takkan disampaikan oleh dosen-dosen lain. Tapi pesan ini penting, jauh lebih penting dari sekedar soal ujian nanti.
Beliau diam sejenak sebelum menyampaikan pesannya, menarik nafas panjang dan memulainya. "Anak-anakku, ingat ini ya nanti kalau kalian lulus pilihlah pekerjaan yang kalian anggap baik dari yang paling baik", tuturnya sambil menatap ke seluruh mahasiswa yang hadir.
Beliau akhirnya melanjutkan pesannya "hukum itu bukan cuma teori, ilmu yang kalian tuntut sekarang itu bukan dongeng. Hukum akan menuntut kalian melihat langsung mana yang baik dan benar, kelak jika kalian menjadi pengacara kalian akan berurusan dengan materi dan nurani, jangan kaget anak-anakku ", tutur beliau melanjutkan pesannya.
Kelas mendadak sunyi, dengan seksama semua menanti lanjutan pesan pak dosen ini " Sebentar lagi 2015, kalian tau tentang globalisasi bukan? Bangsa ini memang sudah porak-poranda, tapi kelanjutan bangsa ini ada di tangan kalian. Tolong jangan hancurkan bangsa ini nak, jangan biarkan kelak kita menjadi babu di negeri sendiri, kalian harus jadi tuan rumah di tanah pertiwi". Beliau mengakhiri pesannya dan kami sibuk mencerna tiap-tiap kaliamat yang beliau sampaikan.
Semua yang beliau sampaikan itu benar dan nyata. Pesannya membuat benakku sibuk sendiri. Negeri ini kaya sangat kaya tapi masih ribuan bahkan jutaan rakyat menjerit kelaparan. Semua berkoar menyuarakan rakyat tapi kenyataannya?
Tidak pernah sedikitpun terbayangkan kelak kita semua menjadi pesuruh di bumi pertiwi. Kelak bangsa lain bebas masuk, bebas menjalankan misinya untuk Indonesia.
Sahabatku, coba kita ingat-ingat lagi tentang hal ini. Bangun sahabatku, negeri ini butuh kalian, bangsa ini ada di tangan kalian. Jangan berhenti berjuang sahabatku, bangun dari mimpi buruk yang panjang ini.
Sebelum ia memulai kuliahnya hari ini, lima orang mahasiswa masuk ke ruangan kami dan ternyata mereka ingin melakukan kampanye untuk pemilihan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Hukum atau yang biasa kami sebut COLSA. Beliau dengan senyumnya mempersilahkan mahasiswa-mahasiswa tersebut untuk menyampaikan visi dan misi dari masing-masing kandidat tersebut.
Tidak lama setelah tanya jawab dan pemilihan, dosen kami pun melanjutkan tugasnya. "Anak-anak cukup sekian kelas kita hari ini, ini kelas terakhir kita dan saya punya pesan penting untuk kalian", kata dosen tersebut.
Mahasiswa pun bersorak karna kelas ini lebih cepat selesai dari wkatu yang sebenarnya. Dengan penuh antusias mahasiswa kelasku pun menanti pesan yang akan di sampaikan, mengingat pesen sebelum UAS itu pasti tentang kisi-kisi soal UAS yang nantinya keluar di ujian.
Tapi ternyata kami salah, salah besar. Pesan itu bukan mengenai kisi-kisi soal ujian, pesan ini mungkin takkan disampaikan oleh dosen-dosen lain. Tapi pesan ini penting, jauh lebih penting dari sekedar soal ujian nanti.
Beliau diam sejenak sebelum menyampaikan pesannya, menarik nafas panjang dan memulainya. "Anak-anakku, ingat ini ya nanti kalau kalian lulus pilihlah pekerjaan yang kalian anggap baik dari yang paling baik", tuturnya sambil menatap ke seluruh mahasiswa yang hadir.
Beliau akhirnya melanjutkan pesannya "hukum itu bukan cuma teori, ilmu yang kalian tuntut sekarang itu bukan dongeng. Hukum akan menuntut kalian melihat langsung mana yang baik dan benar, kelak jika kalian menjadi pengacara kalian akan berurusan dengan materi dan nurani, jangan kaget anak-anakku ", tutur beliau melanjutkan pesannya.
Kelas mendadak sunyi, dengan seksama semua menanti lanjutan pesan pak dosen ini " Sebentar lagi 2015, kalian tau tentang globalisasi bukan? Bangsa ini memang sudah porak-poranda, tapi kelanjutan bangsa ini ada di tangan kalian. Tolong jangan hancurkan bangsa ini nak, jangan biarkan kelak kita menjadi babu di negeri sendiri, kalian harus jadi tuan rumah di tanah pertiwi". Beliau mengakhiri pesannya dan kami sibuk mencerna tiap-tiap kaliamat yang beliau sampaikan.
Semua yang beliau sampaikan itu benar dan nyata. Pesannya membuat benakku sibuk sendiri. Negeri ini kaya sangat kaya tapi masih ribuan bahkan jutaan rakyat menjerit kelaparan. Semua berkoar menyuarakan rakyat tapi kenyataannya?
Tidak pernah sedikitpun terbayangkan kelak kita semua menjadi pesuruh di bumi pertiwi. Kelak bangsa lain bebas masuk, bebas menjalankan misinya untuk Indonesia.
Sahabatku, coba kita ingat-ingat lagi tentang hal ini. Bangun sahabatku, negeri ini butuh kalian, bangsa ini ada di tangan kalian. Jangan berhenti berjuang sahabatku, bangun dari mimpi buruk yang panjang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar