Senin, 31 Desember 2012
love is LOVE
Cinta itu apa?
adakah insan yang mampu menjelaskannya?
Kurasa tidak
Karna aku, kamu, dia dan mereka punya definisi masing-masing tentang cinta
Apapun itu tiap manusia punya cinta
dan tiap manusia pula butuh cinta
Tidak perduli cinta itu tumbuh dari perbedaan umur yang kebanyakan orang bilang tidak masuk akal
bahkan ada cinta yang tumbuh diantara sesama
kebanyakan orang tentu memandang segolongan ini gila
tapi menurutku, cinta itu anugerah dan aku tetap menghargai golongan itu walaupun ratusan bahkan jutaan mata tak setuju dengan hal ini
Tapi bukankah kita tak pernah tau dengan siapa kita akan jatuh cinta?
Cinta bisa tumbuh dimana saja dan kapan saja
Cinta tumbuh ditengah perbedaan
iman sekalipun
karna perbedaan itu cinta, perbedaan yang mengajarkan kita tentangg cinta
Kalian takkan pernah mengerti sebelum kalian merasakannya
tapi kuharap cinta kalian tak terhalang iman
walaupun cinta punya caranya sendiri untuk menguji kekuatannya
Cinta itu tak sama sekali egois
karna cinta itu anugerah
tapi sayangnya ada sebagian orang percaya bahwa cinta tak harus memiliki
aku sendiri percaya kalau cinta akan menemukan jalannya sendiri.
Minggu, 30 Desember 2012
neon tribal earings
wake me up when desember rain
Hello folks, i'm back :)
Alhamdulillah, akhirnya september berakhir berganti desember dan saat aku kembali menulis lagi di blog ini telah memasuki akhir bulan dan sekaligus akhir tahun ini. Detak detik berlalu dan hingga kapanpun tiada satupun orang yang mampu mengembalikannya.
Puing-puing harapan yang kemarin begitu jernih harus terkubur lagi dan lagi tapi berbagai kejadian menyadarkanku bahwa niat baik tidak selalu berjalan baik dan apa yang menurut kita baik dan belum tentu baik dimata oranglain tapi apapun itu aku percaya bahwa Allah ingin mengajarkanku banyak hal bahkan hingga bab tersulit dalam hidup ini yakni ikhlas.
Allah menguji umatnya karna Dia sayang dan Allah kirimkan rejeki lain setelah itu. Ada pelangi setelah hujan, dan tak hentinya syukur aku panjatkan akan Desember ini. Hujan kesedihan di akhir september kemarin seolah membuatku ingin berteriak hingga ada satu saja orang yang membangunkanku kembali untuk memulai Desember yang lebih baik. Dan akhirnya Allah menundukkan kuasaNya, jika satu pintu tertutup ada banyak pintu yang masih terbuka dan aku mencoba setiap pintu itu hingga usahaku membuahkan hasil. Kebahagiian yang luar biasa saat kembali mengunjungi Kamar Butik di Pekanbaru, ya usahaku yang kurajut sendiri itu selalu menjadi obat penenang sekaligus vitamin di kondisi sulit hidupku. Senyuman banyak pelanggan serta derai tawa banyak orang saat berbelanja di butikku adalah tambahan energi untuk memulai Desember ini. Semua pelanggan setia dan sahabat Kamar Butik membangunkanku dengan hujan berkah Desember ini. Semoga berkah Allah juga melimpahi kalian setiap saat, amien.
Rabu, 28 November 2012
Adilia's Quotes of The Day
Tangis dan tawamu hanya berlebihan saat kau lupa bahwa hidup hanyalah akting dari naskah semesta yang belum siap kau baca seutuhnya.
Kamis, 22 November 2012
Adilia Quotes of The Day
jangan terkecoh, manisnya gula tidak telihat dari warnanya begitu juga dengan pahitnya kopi.
Jumat, 16 November 2012
Adilia Quotes of The Day
When some things go wrong
take a moment be thankful for the many more
things that are still going right.
Remember :
life will keep bringing
you the same test over and over again
till you pass it.
dongeng Marsinah
Marsinah buruh pabrik arloji
mengurus presisi
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi
waktu memang tak pernah kompromi
ia sangat cermat dan pasti.
waktu memang tak pernah kompromi
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi.
kami ini tak banyak kehendak
sekedar hidup layak
sebutir nasi.
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi.
kami ini tak banyak kehendak
sekedar hidup layak
sebutir nasi.
Marsinah, kita tahu tak bersenjata
ia hanya suka merebus kata sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
Di hari baik bulan baik
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan
Ia diantar ke rumah Siapa
ia disekap di ruang pengap
ia diikat ke kursi
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air
ia tidak diberi nasi
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
ia tidak diberi nasi
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu
kepalanya ditetak
selangkangnya diacak-acak
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
kepalanya ditetak
selangkangnya diacak-acak
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
Marsinah pun abadi.
Di hari baik bulan baik
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli
meregang waktu bersaksi:
dan tak pernah ambil peduli
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan
sempurna, sendiri.
dan dicampakkan
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman?
Apakah sebenarnya sumber keserakahan?
Apakah sebenarnya azas kekuasaan?
Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Saya ini Marsinah,buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir ke dunia lagi
jangan saya dikirim ke neraka itu lagi.
Saya ini Marsinah, saya tak mengenal wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang di poster-poster itu
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang di poster-poster itu
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan tangan kita ini
melingkar di pergelangan tangan kita ini
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(1993-1996)
penyair
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
widji thukul, 19 Januari 1988
Retro Kitchen Design Sets and Ideas
It is fun to once in a while look back and see what was considered cool
and trendy during the past. In this post we take a look at the kitchens
of yesteryear – those from 1920s to 1960s.
Kitchens then used bold colors like yellow, blue and jadeite green
with checkerboard floors and vivid patterns. Also prominent were the
painted cabinets, glass knobs, vintage linens and conspicuous electrical
appliances that were meant to be used for long periods. In those days,
the throwaway mentality was unheard of and people preferred to repair
and re-use rather than replace.
Finding retro kitchens on the web is not an easy task. We could
always use more help. If you come across any retro kitchen that you
think need to be featured here
.1953 Retro American Kitchen
1930 Retro Style ‘Chrome’ Kitchen
1930 Armstrong Kitchen
1930s All Purpose Retro Kitchen
Jumat, 09 November 2012
pilkada
media mulai ribut
isu ini isu itu
liput ini liput itu
gusur ini gusur itu
gusur ini gusur itu
sebagian penonton percaya mutlak
sebagian menanti episode berlanjut
dan sebagian lagi tersenyum
sambil menagih janji-janji
yang kemarin menggema disuarakan
ini bukan soal jas
bukan soal kumis
bukan soal kemaja kotak
bukan pula soal sendal jepit bahkan agama
ini soal janji yang beratasnamakan demokrasi
bercermin dari masa lalu
saat kekuasaan membutakan nurani
mereka masih menggandeng yang mang aku kan dirinya ulama
hingga merapat
dan kemudian
bagaimana dengan umat?
lisannya alat untuk membabi buta
mencari muka
jilat sana jilat sini
terang-terangan
pejamkan mata
tutup telinga rapat-rapat
lalu rakyat?
mereka masih saja berlomba menyilaukan citra
mengkinclongkan nama
menjual tampang
saat ditanya rakyat
jiwannya kaku
lidahnya kelu
penguasa itu buruh rakyat
bukan pemilik negara
seenaknya menjual aset bangsa
lalu kami, rakyat Indonesia
kau gadaikan dengan harga berapa?
-Sonia Adilia-
-Sonia Adilia-
terlambat
Cukup sudah kesalahan kali ini
Jangan sampai semua terulang kembali
Keraguan dalam hatiku harus ku buang jauh
Bila ingin mendapatkan yang terbaik
Pengalaman pahit yang ku jadikan pelajaran
Dalam hidup yang tak akan terlupakan
Jangan menunda sesuatu untuk dikerjakan
Jangan tunda
Jangan tunda...
Sabtu, 03 November 2012
Adilia Quotes of The Day
pudarnya kekakuan kenyataan keadaan yang kemarin singgah kini berevolusi putihnya mimpi yang terpantul tegas di retina matamu, ini bukan soal rupiah tapi soal sejarah kecerdasan kehidupan, dunia.
Minggu, 28 Oktober 2012
drama DPR 'red cross' ke Denmark
penguasa itu masih saja tak mengakui dosanya
mereka terus mensalib dirinya benar
dan tunjuk idung kepada yang lain
agar bangkainya tak tercium
mereka masih saja bisa berkata
'hanya' sekian persen dibanding pemerintah
sayangnya
amanat itu kami alamatkan kepadamu
Dari rakyat
persen-persen itu sangat berarti
untuk ribuan bahkan jutaan perut-perut
yang meringkih kelaparan
sementara kalian?
hallo, lupa ya?
jalan-jalan, lagi
sekarang Denmark
kemarin Jerman
besok mungkin bulan
lisannya alat saat ditanya alasan
kunjungan itu kesempatan
mereka terus mensalib dirinya benar
dan tunjuk idung kepada yang lain
agar bangkainya tak tercium
mereka masih saja bisa berkata
'hanya' sekian persen dibanding pemerintah
sayangnya
amanat itu kami alamatkan kepadamu
Dari rakyat
persen-persen itu sangat berarti
untuk ribuan bahkan jutaan perut-perut
yang meringkih kelaparan
sementara kalian?
hallo, lupa ya?
jalan-jalan, lagi
sekarang Denmark
kemarin Jerman
besok mungkin bulan
lisannya alat saat ditanya alasan
kunjungan itu kesempatan
marjinal
yang kuat menguasai
yang lemah dikorupsi
yang kaya semakin kaya
yang miskin semakin miskin
yang pintar membodohi
yang bodoh dibudayakan
tuluslah mencintainya
Jika kamu tulus mencintai seseorang
dengarkan kata hatimu
bukan kata orang-orang disekitarmu
ini hidupmu !
faktanya
pria harus menghargai perempuannya atas siapa dia
bukan atas penampilan fisiknya.
Kita tidak bisa membuat oranglain bertumbuh dewasa
karena menjadi dewasa adalah pilihan
bukan paksaan.
Karena cinta mampu berkata
dengan bahasa yang tak dimengerti manusia
maka kita hanya bisa merasa
Sesungguhnya
cinta punya jalannya masing-masing
jadi
biarkan cinta menemukan jalannya sendiri
Surat Kepada Yang Terhormat Bapak Presiden
Akhir Oktober ini aku ingin kembali sedikit bercerita tentang secercah kisah di bulan September yang lambat laun mungkin terlupakan di jutaan benak rakyat Indonesia tapi tidak dihati kami yang masih percaya akan mimpi putih yang segera menghampiri tanah pertiwi.
Sampai detik ini, ratusan bahkan jutaan persoalan bangsa ini belum selesai, sebagian diantaranya menyangkut HAM. September selalu saja berhasil mengingatkanku akan persoalan HAM yang dialami negeri ini. Aku bukan aktivis HAM, aku juga tak pernah menyuarakan HAM didepan istana negara, aku tak lebih dari seorang gadis yang mungkin punya sedikit waktu untuk membaca sepenggal sejarah HAM dan menuangkan setitik hasil bacaan itu dalam paragraf seiring doa agar tulisan ini berguna untuk anak negeri.
Ada yang mengatakan bangsa kita adalah bangsa pelupa, kita melupakan jutaan persoalan negara ini dan membiarkannya terkubur oleh zaman. Tapi taukah kalian, ternyata 'masih' ada sejumlah sosok yang mencoba melawan. Berjuang agar kita tidak lupa. Tidak lupa akan keadilan yang tetap harus ditegakkan.
Maria Katarina Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atmajaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi I masih menuntut keadilan. Tewasnya putra-putri Sumarsih dan orangtua korban lainnya masih tersangkut di Kejaksaan Agung hingga kini, tapi mereka tak pernah bosan untuk menanti.
Indra Azwan, pria yang berumur 53 tahun ini rela berjuang hingga ajal menjemput demi keadilan atas meninggal putrnya. Rifki Andika yang saat itu masih berusia 12 tahun menjadi korban tabrak lari oelh mobil yang dikendarai oknum Perwira Polisi dan pelakunya seolah tak tersentuh hukum. Hampir 20 tahun perjuangannya di jalanan menuntut keadilan, ia pun mengadu ke Komnas HAM, Ombudsman, Kompolnas, Mabes Polri, Kommisi III DPR RI, Satgas Mafia Hukum dan jika tidak akan langsung kerumah Presiden dan yang terakhir ke Mekkah, mengadu pada Allah karna belum juga ditemukan keadilan.
26-12-04 ratusan ribu orang menjadi korban tsunami Aceh dan menghabiskan hidupnya di barak pengungsian. BRR menjanjikan 6000 rumah untuk para korban, namun janji tersebut bermasalah seiring dengan berakhirnya tanggung jawab BRR 2009 lalu. Sebanyak 1569 rumah pun belum direalisasikan dan warga hanya menunggu janji karna mediasi tak membuahkan hasil nyata. Kini janji hanya tinggal janji, 8 tahun para korban tsunami hanya menjadi saksi hidup janji-janji kosong pemerintah.
Tahun ke-4 skandal Bank Century belum menemukan kata tamat. Siput Lokasari yang dananya tertanam 5,4 M dan nasabah lainnya masih terus berjuang. Nasabah yang menjadi korban reksadana fiktif ini saling menguatkan diri, sebagian dari mereka frustasi bahkan bunuh diri.
Terakhir adalah Suciwati, istri Alm. Munir, aktivis HAM yang tak kenal lelah menyuarakan keadilan untuk rakyat kecil selama 8 tahun ini belum juga terugkap. Hasil otopsi Munir oleh Institut Foresik Belanda membuktikan Munir meninggal akibat Arsenikum dalam dosis fatal.
Kini Suciwati dan korban ketidakadilan lainnya terus melakukan aksi 'kamisan' di depan istana negara sambil membesarkan kedua buah hatinya. Aksi Kamisan adalah aksi payung hitam dan aksi diam di depan istana negara setiap hari Kamis. Aksi Kamisan semenjak tanggal 18 Januari 2007, Sumarsi dan para korban pelanggaran HAM lainnya menulis 239 surat kepada Presiden. Selama ini surat-surat itu ditulisn dan dikirim ke Sekretariat Negara saat mereka melakukan aksi di depan Istana Negara. Sumarsih, Indra, Siput dan Suciwati hanyalah sebagian kecil dari potret penegakan HAM negeri ini tapi yang perlu kalian ingat mereka tak berhenti sampai sini, hingga jutaan pasang mata melihat dan mendengar jeritan tangis rakyat negeri ini, mereka tak mengenal lelah menunggu keadilan berdiri tegar di bumi pertiwi.
Sampai detik ini, ratusan bahkan jutaan persoalan bangsa ini belum selesai, sebagian diantaranya menyangkut HAM. September selalu saja berhasil mengingatkanku akan persoalan HAM yang dialami negeri ini. Aku bukan aktivis HAM, aku juga tak pernah menyuarakan HAM didepan istana negara, aku tak lebih dari seorang gadis yang mungkin punya sedikit waktu untuk membaca sepenggal sejarah HAM dan menuangkan setitik hasil bacaan itu dalam paragraf seiring doa agar tulisan ini berguna untuk anak negeri.
Ada yang mengatakan bangsa kita adalah bangsa pelupa, kita melupakan jutaan persoalan negara ini dan membiarkannya terkubur oleh zaman. Tapi taukah kalian, ternyata 'masih' ada sejumlah sosok yang mencoba melawan. Berjuang agar kita tidak lupa. Tidak lupa akan keadilan yang tetap harus ditegakkan.
Maria Katarina Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atmajaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi I masih menuntut keadilan. Tewasnya putra-putri Sumarsih dan orangtua korban lainnya masih tersangkut di Kejaksaan Agung hingga kini, tapi mereka tak pernah bosan untuk menanti.
Indra Azwan, pria yang berumur 53 tahun ini rela berjuang hingga ajal menjemput demi keadilan atas meninggal putrnya. Rifki Andika yang saat itu masih berusia 12 tahun menjadi korban tabrak lari oelh mobil yang dikendarai oknum Perwira Polisi dan pelakunya seolah tak tersentuh hukum. Hampir 20 tahun perjuangannya di jalanan menuntut keadilan, ia pun mengadu ke Komnas HAM, Ombudsman, Kompolnas, Mabes Polri, Kommisi III DPR RI, Satgas Mafia Hukum dan jika tidak akan langsung kerumah Presiden dan yang terakhir ke Mekkah, mengadu pada Allah karna belum juga ditemukan keadilan.
26-12-04 ratusan ribu orang menjadi korban tsunami Aceh dan menghabiskan hidupnya di barak pengungsian. BRR menjanjikan 6000 rumah untuk para korban, namun janji tersebut bermasalah seiring dengan berakhirnya tanggung jawab BRR 2009 lalu. Sebanyak 1569 rumah pun belum direalisasikan dan warga hanya menunggu janji karna mediasi tak membuahkan hasil nyata. Kini janji hanya tinggal janji, 8 tahun para korban tsunami hanya menjadi saksi hidup janji-janji kosong pemerintah.
Tahun ke-4 skandal Bank Century belum menemukan kata tamat. Siput Lokasari yang dananya tertanam 5,4 M dan nasabah lainnya masih terus berjuang. Nasabah yang menjadi korban reksadana fiktif ini saling menguatkan diri, sebagian dari mereka frustasi bahkan bunuh diri.
Terakhir adalah Suciwati, istri Alm. Munir, aktivis HAM yang tak kenal lelah menyuarakan keadilan untuk rakyat kecil selama 8 tahun ini belum juga terugkap. Hasil otopsi Munir oleh Institut Foresik Belanda membuktikan Munir meninggal akibat Arsenikum dalam dosis fatal.
Kini Suciwati dan korban ketidakadilan lainnya terus melakukan aksi 'kamisan' di depan istana negara sambil membesarkan kedua buah hatinya. Aksi Kamisan adalah aksi payung hitam dan aksi diam di depan istana negara setiap hari Kamis. Aksi Kamisan semenjak tanggal 18 Januari 2007, Sumarsi dan para korban pelanggaran HAM lainnya menulis 239 surat kepada Presiden. Selama ini surat-surat itu ditulisn dan dikirim ke Sekretariat Negara saat mereka melakukan aksi di depan Istana Negara. Sumarsih, Indra, Siput dan Suciwati hanyalah sebagian kecil dari potret penegakan HAM negeri ini tapi yang perlu kalian ingat mereka tak berhenti sampai sini, hingga jutaan pasang mata melihat dan mendengar jeritan tangis rakyat negeri ini, mereka tak mengenal lelah menunggu keadilan berdiri tegar di bumi pertiwi.
- Sonia Adilia -
Kamis, 25 Oktober 2012
Adilia Quotes of The Day
matahari saja tidak pernah bosen menyinari setiap penduduk bumi ini
tanpa
pamrih
walau manusia banyak mengeluh
melenguh
lupa akan syukur
Selasa, 23 Oktober 2012
close ur eyes
Ada kalanya kita harus memejamkan mata , melupakan segalanya, sejenak saja. Karna sekarang waktunya kita bersyukur.
Adilia Quotes of The Day
menurutku hidup itu seperti sekolah, setiap saat kita takkan berhenti belajar dari siapa saja, dimana saja dan kapan saja.
IQRO ! artinya bacalah !
hello Gideon :)
Senin yang tanpa rencana ini aku mengunjungi kembali keluarga kecil ini dan tenyata disana ada kejutan kecil dari Allah. Aku dipertemukan dengan seorang pria yang kira-kira umurnya tidak jauh lebih tua dariku. Tanda tanya jelas menghampiriku ketika Alif dengan gayanya yang khas meledekku setelah beberapa menit aku tiba dirumah itu 'bentar lagi ada cowo ganteng dateng loh' tuturnya.
Alif yang sudah seperti adikku sendiri itu memang sering menjahiliku, ya maklumlah mungkin karna pilihanku yang hingga kini belum memutuskan untuk pacaran dan mungkin Allah belum mempertemukanku dengan pria yang ditepat di waktu yang tepat pula. Tapi apapun itu, aku selalu menjawabnya dengan senyuman.
Tidak lama kemudian, pria yang menurutku sedikit berwajah Arab itu datang dan menghampiri kami hingga akhirnya Tante Sinta memperkenalkannnya, ya namanya ternyata Gideon. Tapi hingga kini kami semua memanggilnya, Jidden.
Sejauh ini ternyata Tante Sinta, Alif dan Jidden mempunyai rencana untuk bergerak bersama dibidang pendidikan dan tentunya aku mulai tertarik kedalam pembicaraan mereka. Setelah menjelaskan sedikit tentang arahnya, aku mulai mengerti dan ada semangat yang akhirnya tumbuh didiri ini.
Ide-ide mulai berkecambuk di otakku dan yang jelas sekarang kami semua ingin mewujudkan mimpi itu, dan Jidden datang untuk menjawab mimpi buruk yang mengahantui fikiranku tentang bagaimana nasib anak bangsa ini. Pesimis dan kesedihan saat membayangkan bangsa ini kedepannya pun kemudian terkikis secara perlahan.
Anehnya hari ini jadwal kuliahku sudah sangat mepet dan seharusnya aku sudah menuju kampus namun aku merasa tetap ingin berkunjung kesana da anehnya ternyata Jidden ada jadwal mengajar sore itu, bahkan ia sebelumnya sudah tiba di tempat dia mengajar namun ia malah menundanya untuk mengganti keesokan harinya. Mungkin ini bukan sebuah keanehan diantara kami, aku percaya tidak ada yang kebetulan didunia ini, pertemuan aku dan dia telah diatur digarisNya. Kini kami bergandeng tangan bersama, berserah pada Allah dan tak hentinya berucap syukur dan berdoa untuk niat baik ini.
Jidden menjadi jawaban, ditengah carut marutnya birokrasi bangsa ini, ketika keadilan sulit ditemukan di kalangan mereka yang membutuhkan dan pendidikan hanya menjadi mimpi bagi mereka yang tak punya rupiah, aku dan dia memulai langkah bersama untuk mewujudkan mimpi ini. Anak-anak bangsa, jangan khawatir ternyata masih ada orang baik ditengah dunia yang semakin kejam ini. Doakan kami, semoga Allah melindungi jalan Kami, amin.
Alif yang sudah seperti adikku sendiri itu memang sering menjahiliku, ya maklumlah mungkin karna pilihanku yang hingga kini belum memutuskan untuk pacaran dan mungkin Allah belum mempertemukanku dengan pria yang ditepat di waktu yang tepat pula. Tapi apapun itu, aku selalu menjawabnya dengan senyuman.
Tidak lama kemudian, pria yang menurutku sedikit berwajah Arab itu datang dan menghampiri kami hingga akhirnya Tante Sinta memperkenalkannnya, ya namanya ternyata Gideon. Tapi hingga kini kami semua memanggilnya, Jidden.
Sejauh ini ternyata Tante Sinta, Alif dan Jidden mempunyai rencana untuk bergerak bersama dibidang pendidikan dan tentunya aku mulai tertarik kedalam pembicaraan mereka. Setelah menjelaskan sedikit tentang arahnya, aku mulai mengerti dan ada semangat yang akhirnya tumbuh didiri ini.
Ide-ide mulai berkecambuk di otakku dan yang jelas sekarang kami semua ingin mewujudkan mimpi itu, dan Jidden datang untuk menjawab mimpi buruk yang mengahantui fikiranku tentang bagaimana nasib anak bangsa ini. Pesimis dan kesedihan saat membayangkan bangsa ini kedepannya pun kemudian terkikis secara perlahan.
Anehnya hari ini jadwal kuliahku sudah sangat mepet dan seharusnya aku sudah menuju kampus namun aku merasa tetap ingin berkunjung kesana da anehnya ternyata Jidden ada jadwal mengajar sore itu, bahkan ia sebelumnya sudah tiba di tempat dia mengajar namun ia malah menundanya untuk mengganti keesokan harinya. Mungkin ini bukan sebuah keanehan diantara kami, aku percaya tidak ada yang kebetulan didunia ini, pertemuan aku dan dia telah diatur digarisNya. Kini kami bergandeng tangan bersama, berserah pada Allah dan tak hentinya berucap syukur dan berdoa untuk niat baik ini.
Jidden menjadi jawaban, ditengah carut marutnya birokrasi bangsa ini, ketika keadilan sulit ditemukan di kalangan mereka yang membutuhkan dan pendidikan hanya menjadi mimpi bagi mereka yang tak punya rupiah, aku dan dia memulai langkah bersama untuk mewujudkan mimpi ini. Anak-anak bangsa, jangan khawatir ternyata masih ada orang baik ditengah dunia yang semakin kejam ini. Doakan kami, semoga Allah melindungi jalan Kami, amin.
silahturahmi
Senin ini langkahku teriring untuk kembali mengunjungi keluarga kecil yang sudah lama tidak ada pertemuan seperti yang biasanya kami lakukan. Bukan menghilang dan tak ingin menghilang tapi aku masih saja membutuhkan waktu untuk berfikir jernih dan dan aku menyadari untuk kembali jernih itu tentu saja memakan waktu. Berfikir secara jernih inilah yang nantinya dapat menarik perlajaran-pelajaran berharga dari bisnis yang mungkin tertunda. Tapi akhirnya intropeksi dan pelajaran-pelajaran yang aku alami kemarin lebih dari uang sekalipun.
Aku sama sekali tidak merasa gagal dalam bisnis itu, tapi ya aku percaya semua manusia di bumi ini hanya bisa berencana dan semua bergantung atas izin-Nya. Ini bukan berarti Allah tak mendengarkan kami, tapi mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuk kedepannya.
Rencana bisnis yang sudah kukemas dan mimpi yang terpaksa harus kukubur pelan-pelan kemarin mungkin memang mengajakku untuk hanyut terlalu dalam dikesedihan. Aku sendiri tau mungkin aku tipikal orang yang selama ini tidak pernah gagal, ralat deh mungkin bukan tidak pernah gagal tapi ketika aku memutuskan untuk menyelami sesuatu, minimal harus terlaksana dan mencapai 'sesuatu'. Tapi lagi-lagi dua kegagalan terjadi lagi saat bisnis sistem join terbentuk.
Trauma dengan bisnis sistem join? heem dalam hidupku mungkin aku tak mengenal kata trauma tapi jelas kesedihan itu pasti ada. Tapi aku sadar kesedihanku takkan mengubah keadaan yang terjadi melainkan sudah waktunya aku bangun kembali dari mimpi kesedihan kemarin dan menebusnya dengan ide-ide yang di anugerahkan Tuhan. Hingga senin ini, saat mimpi kesedihan itu berakhir dengan cuma waktu yang akhirnya bisa menyembuhkannya, aku harus kembali mengunjungi keluarga kecil ini.
Apapun yang terjadi, paling tidak aku harus gentleman deh istilahnya atau mempertanggung jawabkan apa yang sudah disepakati kemarin. Ada atau tidaknya Yoko bukan masalah, masalah tanggung jawab itu personal, dan jika aku terus menunda akan ada rasa tanda tanya besar yang terus menghantuiku. Yoko, aku dan keluarga kecil ini ternyata merindukanmu, bermain-main lagi dan bagaimanapun, kamu masih tetap saudaraku. Semoga nanti Allah mengiring langkahmu untuk kita kembali bersilahturahmi lagi ya. Silahturahmi itu diatas segala-galanya teman.
Aku sama sekali tidak merasa gagal dalam bisnis itu, tapi ya aku percaya semua manusia di bumi ini hanya bisa berencana dan semua bergantung atas izin-Nya. Ini bukan berarti Allah tak mendengarkan kami, tapi mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuk kedepannya.
Rencana bisnis yang sudah kukemas dan mimpi yang terpaksa harus kukubur pelan-pelan kemarin mungkin memang mengajakku untuk hanyut terlalu dalam dikesedihan. Aku sendiri tau mungkin aku tipikal orang yang selama ini tidak pernah gagal, ralat deh mungkin bukan tidak pernah gagal tapi ketika aku memutuskan untuk menyelami sesuatu, minimal harus terlaksana dan mencapai 'sesuatu'. Tapi lagi-lagi dua kegagalan terjadi lagi saat bisnis sistem join terbentuk.
Trauma dengan bisnis sistem join? heem dalam hidupku mungkin aku tak mengenal kata trauma tapi jelas kesedihan itu pasti ada. Tapi aku sadar kesedihanku takkan mengubah keadaan yang terjadi melainkan sudah waktunya aku bangun kembali dari mimpi kesedihan kemarin dan menebusnya dengan ide-ide yang di anugerahkan Tuhan. Hingga senin ini, saat mimpi kesedihan itu berakhir dengan cuma waktu yang akhirnya bisa menyembuhkannya, aku harus kembali mengunjungi keluarga kecil ini.
Apapun yang terjadi, paling tidak aku harus gentleman deh istilahnya atau mempertanggung jawabkan apa yang sudah disepakati kemarin. Ada atau tidaknya Yoko bukan masalah, masalah tanggung jawab itu personal, dan jika aku terus menunda akan ada rasa tanda tanya besar yang terus menghantuiku. Yoko, aku dan keluarga kecil ini ternyata merindukanmu, bermain-main lagi dan bagaimanapun, kamu masih tetap saudaraku. Semoga nanti Allah mengiring langkahmu untuk kita kembali bersilahturahmi lagi ya. Silahturahmi itu diatas segala-galanya teman.
Minggu, 21 Oktober 2012
cara membaca barcode
- Kode batang/barcode terdiri dari garis hitam dam putih. Ruang putih di antara garis-garis hitam adalah bagian dari kode.
- Ada perbedaan ketebalan garis. Garis paling tipis “1”, yang sedang “2”, yang lebih tebal “3”, dan yang paling tebal “4”.
- Setiap digit angka terbentuk dari urutan empat angka:
0 = 3211
1 =
2221
2 = 2122
3 = 1411
4 = 1132
5 = 1231
6 = 1114
7 = 1312
8 =
1213
9 = 3112
i don't know the question but the answer
aku sendiri tidak pernah tau kenapa aku selalu bisa jatuh cinta dengan pria cerdas :"
he is...
he’s kind
he’s goodman
he’s smart
he’s prime
he’s nice
he’s future
husband
he’s great.
i didn’t say a name but he popped into ur head,
didn’t u?
Jumat, 19 Oktober 2012
Rabu, 10 Oktober 2012
Langganan:
Postingan (Atom)













































