Kamis, 28 Juni 2012

Suara PPI Jerman untuk Indonesia

                       video Penolakan Komisi I oleh PPI Jerman


Aksi penolakan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Jerman atas kunjungan kerja Komisi I DPR-RI beserta rombongan menjadi pembicaraan hangat di berbagai media.

Kunjungan kerja DPR-RI pada 23 April 2012 kemarin mendapat penolakan langsung disertai aksi walkout perwakilan mahasiswa yang terdiri dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman, bersama dengan PPI Berlin, dan Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Jerman pada saat sesi tanya jawab di acara ramah tamah KBRI Berlin.

Adapun agenda kunjungan kerja Komisi I DPR-RI ke Jerman yang saat itu menghabiskan dana sebesar 3,1 milyar ini sebenarnya hanya terdiri dari tiga kegiatan yaitu menggelar pertemuan dengan parlemen Jerman, berkunjung ke pabrik tank Leopard dan menggelar acara ramah tamah dengan KBRI.

Teman-teman PPI Jerman sangat menyayangkan setiap kunjungan kerja para anggota DPR selalu membawa rombongan keluarganya. Pernyataan ini disampaikan salah satu juru bicara PPI Jerman pada kesempatan itu yang mengatakan kunjungan DPR keluar negeri tersebut seperti orang desa yang berbondong-bondong hendak ke kota yang kemudian sepulangnya seperti dapat mainan baru sehingga dinilai seperti kekanak-kanakan dan kampungan.
Aksi yang dilakukan teman-teman PPI Jerman tentu saja membuat kita geram akan kinerja dan efisiensi wakil rakyat bangsa ini. Jutaan bahkan milyaran perut-perut yang kelaparan di negeri ini menjerit untuk makan sedangkan wakil rakyat kita malah mencoreng amanah rakyat kepadanya.

Anggota DPR yang selalu mengikutsertakan keluarganya saat kunjungan kerja tentu sangat mengurangi efisiensi kinerja DPR yang seharusnya lebih serius saat mengemban tugas dinas keluar negeri.

Bayangkan saja mereka telah mengeluarkan biaya Negara milyaran rupiah tanpa transparansi uang tersebut digunakan untuk kepentingan apa saja dan terus saja menghamburkan uang rakyat dengan terbang ribuan kilometer untuk Rapat Dengar Pendapat dengan KBRI dan KJRI padahal zaman sekarang hal ini bisa dilakukan lewat media elektronik yang canggih seperti tele-konferens.

Sebenarnya para wakil rakyat yang terdiri dari orang-orang cerdas dan pendidikan itu paham tentang perlunya transparansi, laporan, dan keprihatinan. Tiga hal ini merupakan hal sederhana yang seharusnya sudah dipegang baik-baik oleh para Wakil Rakyat ketika mereka duduk di gedung DPR.
Sahabat Muda AJI, aksi yang telah dilakukan oleh PPI Jerman ini kontak membangunkan kita bahwa kita sama-sama mempunyai kewajiban mengawasi roda pemerintahan negeri ini. Disamping itu kita juga tidak boleh berhenti untuk terus melakukan kegiatan perubahan menjadi Indonesia kearah yang lebih baik.

Pro dan kontra tentu saja takkan berhenti untuk menghambat langkah kita untuk kemajuan bangsa ini. Semangat dan perjuangan yang dilakukan PPI Jerman kita harapkan dapat menjadi contoh untuk teman-teman PPI di Negara lainnya. Hal ini kita harap dapat menjadi renungan bagi para anggota DPR supaya lebih serius dalam menjalankan amanah yang telah mereka terima dari rakyat.
Selain itu, aksi penolakan PPI Jerman tersebut merupakan salah satu bukti bahwa mahasiswa tidak selamanya menyampaikan aspirasi mereka kepada wakil rakyat dengan cara anarkis seperti yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia saat ini. Seluruh mahasiswa baik yang ada di Indonesia dan di luar negeri masih mempunyai harapan untuk Indonesia yang lebih baik sehingga kita semua mempunyai kewajiban yang sama di pundak kita sebagai rakyat Indonesia untuk terus mengawasi jalannya roda pemerintahan negeri ini.
Jarak teman-teman yang berkuliah diluar negeri bukan alasan untuk mereka berhenti menyuarakan aspirasi mereka sehingga tidak ada lagi alasan untuk seluruh teman-teman mahasiswa di Indonesia menyerah akan keadaan bangsa kita.

Sudah saatnya anak-anak bangsa negeri ini bangkit, memberikan tamparan kecil kepada mereka yang tertidur agar mereka yang kita pilih dengan suara kita sebagai wakil rakyat segera bangun dan sadar akan tugas dan janjinya sebagai wakil rakyat. Ayo sahabatku mari bersama-sama kita satukan suara kita, suara untuk Indonesia.

Wejangan Pengantar UAS

Kampus ini terasa begitu penuh menjelang UAS minggu depan. Ribuan mahasiswa sibuk mengurus segala persiapan mereka mengingat kampusku tidak mengenal minggu tenang seperti yang biasanya dilakukan oleh kampus-kampus lain.

Mata kuliah perancangan kontrak pun akhirnya kami mulai sebagai mata kuliah pertama hari ini. Dosen yang mengajarkan kami mata kuliah ini sebenarnya adalah seorang notaris yang cukup handal di kota ini, namun dia tetap terlihat sederhana di mata mahasiswa-mahasiswanya.

Sebelum ia memulai kuliahnya hari ini, lima orang mahasiswa masuk ke ruangan kami dan ternyata mereka ingin melakukan kampanye untuk pemilihan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Hukum atau yang biasa kami sebut COLSA. Beliau dengan senyumnya mempersilahkan mahasiswa-mahasiswa tersebut untuk menyampaikan visi dan misi dari masing-masing kandidat tersebut.

Tidak lama setelah tanya jawab dan pemilihan, dosen kami pun melanjutkan tugasnya. "Anak-anak cukup sekian kelas kita hari ini, ini kelas terakhir kita dan saya punya pesan penting untuk kalian", kata dosen tersebut.

Mahasiswa pun bersorak karna kelas ini lebih cepat selesai dari wkatu yang sebenarnya. Dengan penuh antusias mahasiswa kelasku pun menanti pesan yang akan di sampaikan, mengingat pesen sebelum UAS itu pasti tentang kisi-kisi soal UAS yang nantinya keluar di ujian.

Tapi ternyata kami salah, salah besar. Pesan itu bukan mengenai kisi-kisi soal ujian, pesan ini mungkin takkan disampaikan oleh dosen-dosen lain. Tapi pesan ini penting, jauh lebih penting dari sekedar soal ujian nanti.

Beliau diam sejenak sebelum menyampaikan pesannya, menarik nafas panjang dan memulainya. "Anak-anakku, ingat ini ya nanti kalau kalian lulus pilihlah pekerjaan yang kalian anggap baik dari yang paling baik", tuturnya sambil menatap ke seluruh mahasiswa yang hadir.

Beliau akhirnya melanjutkan pesannya "hukum itu bukan cuma teori, ilmu yang kalian tuntut sekarang itu bukan dongeng. Hukum akan menuntut kalian melihat langsung mana yang baik dan benar, kelak jika kalian menjadi pengacara kalian akan berurusan dengan materi dan nurani, jangan kaget anak-anakku ", tutur beliau melanjutkan pesannya.

Kelas mendadak sunyi, dengan seksama semua menanti lanjutan pesan pak dosen ini " Sebentar lagi 2015, kalian tau tentang globalisasi bukan? Bangsa ini memang sudah porak-poranda, tapi kelanjutan bangsa ini ada di tangan kalian. Tolong jangan hancurkan bangsa ini nak, jangan biarkan kelak kita menjadi babu di negeri sendiri, kalian harus jadi tuan rumah di tanah pertiwi". Beliau mengakhiri pesannya dan kami sibuk mencerna tiap-tiap kaliamat yang beliau sampaikan.

Semua yang beliau sampaikan itu benar dan nyata. Pesannya membuat benakku sibuk sendiri. Negeri ini kaya sangat kaya tapi masih ribuan bahkan jutaan rakyat menjerit kelaparan. Semua berkoar menyuarakan rakyat tapi kenyataannya?

Tidak pernah sedikitpun terbayangkan kelak kita semua menjadi pesuruh di bumi pertiwi. Kelak bangsa lain bebas masuk, bebas menjalankan misinya untuk Indonesia.

Sahabatku, coba kita ingat-ingat lagi tentang hal ini. Bangun sahabatku, negeri ini butuh kalian, bangsa ini ada di tangan kalian. Jangan berhenti berjuang sahabatku, bangun dari mimpi buruk yang panjang ini.

Senin, 18 Juni 2012

Desi Anwar: Find Habitual Peace

They say if you want to create a habit, you stick to whatever it is you want to do for at least 21 days in a row. After a while, your brain gets used to it and you start doing it without thinking. This is recommended for positive things such as meditation, writing in a journal and physical exercise.

Google engineer Matt Cutts, in a recorded talk called “Try something new for 30 days” on ted.com, finds that starting an activity (biking to work, taking a photo a day, writing a novel) and sticking to it for 30 days makes him healthier, more productive and increases his self-confidence. Telling people that you’ve just finished a novel, for example, can make you sound a lot more interesting than just saying you’re doing the same old thing at the office. After completing a hike up the Kilimanjaro, he even finds himself an exciting person.

The key is to start doing it consciously and keep at it until it becomes second nature — to the point that you miss it or feel guilty if you don’t do it.

You can also do it to give up bad habits, such as smoking or snacking on fried food. Self-restraint, focus, discipline and the motivation to achieve your goal make this exercise work. These are desirable traits for productive and successful individuals. There is nothing I admire more than people who start their day with a jog around the block.

Unfortunately, I usually fail at this sort of thing because I’m not very good at goal-setting — even with ones I set for myself. Once anything becomes a goal it metamorphoses from being a “desire” into an “obligation,” thus changing the fundamental nature of the goal. I am ashamed to say that being conscientious is not my forte.

When I feel that something becomes an obligation, even the most pleasurable thing, like eating a piece of dark chocolate on a daily basis, it becomes a chore and a bore. I think it’s not so much about having a low boredom threshold as a pathological condition; sometimes I think my mental model is fundamentally flawed. While most people would gain pleasure and a sense of achievement at having accomplished something or fulfilling a goal, I find having a goal and then fulfilling it actually devalues the whole process and takes away the fun and meaning of it.

This partly explains why I will never be good in a structured organization, for example, or in anything that requires one to demonstrate a willingness to climb, whether the career ladder or social status. I find the rewards and satisfaction that come with achievement less attractive.

A professor once told me that people do things because of love, money or glory. Behind every action, you’ll find one of these motives in different shades and degrees. You can also say that the reason people do things is because of the rewards; the feeling that there is a sense of purpose and meaning in it. I often hear people say they do things, especially good things (like charity, hard work or prayer), because they want to go to heaven, earn more money and feel a sense of achievement; none of which I find inspiring or attractive incentives.

Which makes me ask myself, what is it that makes me want to do something and actually get it done? I find that the answer is the same one that I used to give when I was a petulant child: I do something because I want to and not because I have to. And the less purpose, reward, expectation or obligation attached to it, the greater the enjoyment.

The meaning of the action comes from the freedom from having those constraints. If I am expected to pray a certain number of times a day in order to be admitted to the kingdom of heaven, I’ll happily forego the offer and dwell in purgatory.

But if it makes me good at doing things, I choose to do them for absolutely no reason. And for longer than 21 days; like not eating what was once my absolute favorite food, the tomato, which I haven’t touched for more than a decade. I can’t remember the reason for that, but it’s probably because I was never sure if it was a fruit or vegetable.

Desi Anwar is a senior anchor at Metro TV. She can be contacted at desianwar.com and dailyavocado.net

Sabtu, 16 Juni 2012

Indahnya Kamu

    Aku punya senyummu

Tuk diceritakan dibait puisiku

Aku punya tawamu

Tuk mewarnai liku hariku


    Aku punya satu bintang

Penunjuk arah tengah kesesatanku

Bintang itu adalah kamu


    Aku punya satu bulan

Menerangi kegelapan relung hati

Bulan itu adalah kamu


    Aku cuma punya kamu

Karya cipta sang surga

Tuk dilihat mata penuh harapan

Dan itu mataku

oleh: Adilia

Minggu, 10 Juni 2012

Sehari Bersama Arbain Rambey

Ballroom Harris Hotel pagi ini mendadak ramai dipenuhi para peserta Workshop Fotografi yang tengah sibuk mendaftarkan diri mereka untuk segera memasuki ruangan. Workshop bertemakan Sapu Jagat ini dihadiri langsung oleh Arbain Rambey.

Satu persatu peserta yang hadir dengan bersemangat mulai menuliskan nama pada kartu tanda pesertanya dan sebagian sambil berharap nomor peserta yang tertera pada kartu tersebut akan keluar pada Door Price yang disediakan panitia dari pihak Kepri Foto.

Arbain Rambey adalah fotografer senior di harian Kompas dan telah berhasil meraih berbagai penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional. Sejak tahun 1989, ia telah memulai kariernya di dunia fotografi. Pria yang awalnya adalah insinyur teknik sipil lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mencoba untuk mendedikasikan kepiawaiannya dalam membidik objek namun juga peduli dengan perkembangan fotografi di Indonesia.

Workshop ini awalnya cukup mengejutkan saya karena pesertanya ternyata jauh lebih ramai dari workshop-workshop fotografi yang digelar sebelumnya. Kurang lebih 170 peserta menyempatkan diri untuk hadir dalam acara yang tidak hanya workshop fotografi melainkan juga street hunting dan photo competition ini.

“Jarang-jarang loh ada seminar oleh Om Arbain ini, kebetulan sekali ini diadakan di Batam jadi gak heran kalau ramai sekali”, ujar salah seorang peserta yang hadir pada kesempatan ini.

Satu jam pertama workshop ini dibuka dari pihak sponsor salah satu brand lensa yang langsung datang dari Jepang untuk memamerkan koleksi lensa terbaru mereka yang akan launching di Indonesia bulan depan.

Presentasi ini cukup menarik walaupun narasumber menyampaikan presentasinya menggunakan bahasa inggris, tidak sedikit dari peserta yang ingin bertanya langsung mengenai keunggulan lensa yang akan dikeluarkan sebulan mendatang.

Selayang pandang mengenai Arbain Rambey pun mulai dibacakan kedua MC yang hadir saat itu sebelum materi dimulai. Arbain memulai materinya dengan hal-hal dasar yang sering disalah artikan para fotografer dalam fotografi yang kemudian diselingi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi oleh para peserta.

Salah seorang peserta sempat bertanya mengenai izin jika kita ingin memotret orang lain, dan jawaban Arbain sangat sederhana. “Motret itu sopan, tidak perlu izin jika ingin motret, izin itu jika foto tersebut ingin dipublikasikan," jawab Arbain enteng diiringi dengan tawa renyah para peserta yang hadir.

Arbain menjelaskan kepada para peserta untuk tidak takut bermain dengan auto focus, ia malah menganggap kamera itu perlu diajak berfikir dengan mengatur sendiri kecanggihannya, selebihnya kita sebagai fotografer hanya perlu konsentrasi dalam mengatur posisi, waktu dan komposisi.

Kreativitas itu dibutuhkan dalam fotografi, jangan takut untuk meniru ide dari foto-foto sebelumnya dan digabungkan dengan ide-ide foto yang kita miliki. Einstein sendiri mengatakan bahwa meniru itu baik jika tidak ketahuan apa yang ditiru karna pada kenyataannya good artist copy and bad artist still.

Motret jurnalistik itu tidak selalu berhubungan dengan humanis melainkan apapun. Apapun bias jadi objek foto, tekstur aspal di parkiran pun akan terlihat menarik jika komposisinya pas, jadi tidak ada alasan tidak ada objek.

Menurut Arbain, motret itu tugas mulia, terkadang kita harus tega motret sesuatu yang sadis sekalipun, karena nantinya foto itu kelak akan bercerita tentang sesuatu hal yang sebenarnya terjadi.

Berbagai materi yang Arbain sampaikan akhirnya diakhiri pukul 14.00 WIB dan segera dilanjutkan dengan acara street hunting yang akan diambil dari berbagai lokasi seperti Engku Putri, tulisan Welcome to Batam dan arsitektur Masjid Raya Batam.

Sebelum acara street hunting panitia memberikan jeda waktu selama satu jam untuk para peserta beristirahat karna jadwal hunting ternyata lebih cepat dari jadwal yang sudah dijanjikan. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan secara maksimal bagi para peserta untuk foto bersama dengan Arbain Rambey didepan badrop yang disediakan oleh panitia.

             Ekspresi saat ngobrol dengan Arbain Rambey

Kesempatan ini juga tentunya saya manfaatkan untuk berfoto bersama Arbain Rambey namun sempat terlintas di pikiran saya bagaimana jika fotografer handal seperti Arbain jika dijadikan model dan harus mengikuti gaya yang diarahkan kepadanya.

Sontak saja setelah hasil jepretan pertama dengan gaya andalan Abrain dengan mengacungkan jempolnya saya memintanya untuk mempraktekkan satu gaya yang menurut saya konyol apalagi untuk fotografer sekelas Arbain. Bayangkan saja saya memintanya untuk bergaya seperti rolling stones atau mengeluarkan lidahnya yang kemudian saya juga mengikuti gaya yang sama berfoto disebelahnya.

Ternyata Arbain itu tidak hanya sosok yang imajinatif melainkan juga lucu, berbagai canda tawanya keluar saat saya memintanya memeragakan gaya tersebut. Tentu kalian tidak terbayang bukan pria seumuran Arbain dengan jam motret yang sangat tinggi kini memperagakan gaya ala Rolling Stones. Arbain Rambey Best deh pokoknya.
            Ini dia foto ala rolling stone with arbain rambey

Arbain Rambey adalah sosok fotografer yang harus diikuti oleh para fotografer lain di negeri ini, beliau bukan hanya sosok yang inspiratif tapi juga sosok yang peduli akan kelangsungan fotografi negeri ini.

Terimakasih Om Arbain untuk satu hari sharing ilmu fotografinya, teruskan kicauan fotografimu dalam berbagai karya-karya terbaik lainnya.

Jumat, 08 Juni 2012

jeans history



Bicara soal fashion atau gaya dalam keseharian kita tidak lengkap rasanya untuk tidak mengangkat soal jeans atau denim yang hingga saat ini masih saja menjadi celana favorit di berbagai kalangan mulai dari dewasa, remaja hingga anak-anak.

Jeans pertama kali di populerkan Levi Strauss. Pemuda asal Jerman ini mencoba peruntungannya dengan menjual tekstilnya kepada para pekerja tambang saat itu. Beberapa potong celana yang Strauss bawa ternyata laku keras mengingat celana ini tahan lama, tidak mudah mudah rusak ataupun sobek.

Semenjak itulah jeans mulai digemari bukan hanya dari kalangan pekerja tambang saja melainkan dari berbagai kalangan terutama anak-anak muda di Amerika pada abad tersebut. Hal ini yang membuat Strauss membuat sejarah peradaban yang teramat penting dengan menciptakan trend yang dapat diterima semua kalangan hingga saat ini.

Jeans sangat mudah diperoleh pada saat ini di outlet-outlet resmi Levi's di berbagai pusat perbelanjaan di berbagai daerah. Merk-merk selain Levi's pun saat ini telah membanjiri dunia fashion tanah air. Jeans-jeans import dengan berbagai brand hingga lokal tidak mau ketinggalan untuk menciptakan jeans buatan mereka sendiri.



Kualitas yang ditawarkan pun tentunya juga berbagai macam, biasanya konsumen mulai mempertimbangan soal harga untuk menentukan kualitas jeans tersebut bagus atau tidak mengingat harga produk berbahan dasar jeans di outlet resmi Levi's jugalah tidak tergolong murah.

Tapi berapapun biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan jeans bukanlah menjadi suatu alasan untuk tidak memilih jeans sebagai pelengkap gaya mereka sehari-hari yang mudah dipadu-padankan atau biasa dalam dunia fashion disebut mix and match juga menjadi faktor pendukung untuk memilih jeans sebagai pilihan mereka.

Berbagai warna jeans pun mulai diciptakan, mulai dari biru muda, biru tua, coklat, hitam bahkan warna-warna lain juga tersedia untuk mewarnai dunia fashion. Konsumen pun bebas memilih warna mana yang mereka sukai tergantung seleranya masing-masing. Satu lagi hal penting yakni jeans tersedia dalam berbagai ukuran sehingga konsumen tidak perlu takut tidak memakainya.

Jeans pada saat ini tidak hanya diciptakan dalam bentuk celana panjang saja, celana pendek juga tersedia untuk menemani pria dn wanita yang ingin menggunakan jeans pendek dalam kesehariannya. Jeans juga tersedia dalam bentuk rompi yang terdiri dari berbagai macam model mulai dari yang berlengan panjang hingga yang tidak berlengan.


Selain itu jeans juga tersedia dalam bentuk jaket baik untuk pria maupun wanita. Warna, model serta ukuran yang ditawarkan juga sangat lengkap sehingga wanita yang ingin memadukan jaket jeans ini untuk kaos hingga dress  mereka tidak perlu khawatir lagi.

Jeans dilihat dari model dan kualitasnya tentu aja membuat kita harus memasukkan koleksi-koleksi pakaian berbahan dasar jeans ini kedalam must have items atau barang yang harus dimiliki dalam leari pakaian kita bukan? Jadi tunggu apalagi, segera ambil jeans kalian untuk menemani acara kalian hari ini.

Minggu, 03 Juni 2012

layang - layang



Aku berlari
Angin, aku mencari-mencari
Kesana kemari
Hingga disini kau kutemui

Aku masih saja berlari
Takkan mampu berdiri sendiri
Ketika hati merasa pasti
Kau kuputuskan mendampingi

Layang-layang bergegas terbang
Satu, dua hingga tiga kali
Tapi tak juga terkembang
Tapi jangan bimbang
Masih ada kesempatan coba lagi

Layang-layang terbang tinggi
Bermain-main hingga berdemostrasi
Mengulur lebih tali temali
Seakan mengusir sepi terus beraksi

Layang-layang jangan berhenti
Jangan terlalu rendah dan meninggi
Teruslah ke kanan dan kiri
Hingga angin tak lagi berkompromi

Layang-layang aku nahkodamu
Benang ditanganku tak sersisa
Waktuku telah habis

Layang-layang mungkin angin marah
Jangan takut terjatuh
Bibawah kau mulai dan tempatmu kembali
Tanah 

karya: Sonia Adilia

Jumat, 01 Juni 2012

Ngopi Bareng AJI Sesi III


Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Batam kembali yang didukung oleh Bank Indonesia bersama Susilo Sulistiawan, Store Manager Carrefour Kepri Mall kembali mengadakan ngopi bareng sesi tiga Jumat (25/5/2012) di My Mie, Batam Center.

Pada sesi tiga kali ini, Sulis menjelaskan bahwa Carrefour membuka pintu kepada UKM dan memberi pemaparan kepada UKM mengenai masalah kualitas produk, izin hingga masalah kemasan yang tentunya juga tidak kalah penting agar produk mereka bisa dilirik oleh konsumen.Dari segi persyaratan produk yang masuk ke Carrefour, Sulis mengaku tidak ada syarat khusus yang harus dilampirkan oleh pelaku UKM, beliau mengaku mereka hanya perlu melengkapi syarat standar saja.

Pertanyaan-pertanyaan mulai mewarnai acara ini, rekan-rekan jurnalis sempat menanyakan mengenai apa permasalahan yang sering menjadi alasan dari kalangan UKM tidak lagi menghubungi pihak Carrefour untuk memasarkan produk mereka. Pelaku UKM sering tidak siap mengenai pendistribusian dan kesediaan barang baku produk mereka sehingga seringkali produk yang mereka tawarkan hanya ada di saat-saat tertentu saja, selain itu para pelaku UKM juga sering mengaku membutuhkan bimbingan mengenai masalah kemasan.

Kemasan tentu saja menjadi masalah serius yang dihadapi oleh para pelaku UKM mengingat tidak semua mengerti bagaimana cara membuat kemasan yang tahan dan menarik. Selain itu kebanyakan dari mereka juga tidak banyak menguasai teknologi sehingga mereka merasa kesulitan. Adanya pelatihan-pelatihan mengenai kemasan yang telah diselenggarakan tentunya sangat membantu mereka, tapi lagi-lagi mereka tentu membutuhkan pemahaman lebih mengingat persaingan produk makin ketat dan kualitas kemasan sangatlah berpengaruh sehingga perlu suatu wadah dimana pelaku UKM bisa berkonsultasi mengenai kemasan untuk produk yang ingin mereka lepas ke pasar.

Solusi pun akhirnya muncul dari rekan-rekan yang hadir yakni melalui rumah kemasan. Ide mengenai rumah kemasan ini sempat diajukan ke Bank Indonesia mengingat pentingnya peran dari rumah kemasan ini.
Nantinya rumah kemasan ini diharapkan bisa menjadi tempat untuk para pelaku UKM yang mengalami kesulitan dalam menentukan kemasan pada produk mereka, mulai dari ukuran, jenis bahan hingga design yang menarik agar produk mereka dapat bersaing di pasaran.

                                             Suasana Ngopi bareng AJI, saya (kanan)