Akhir Oktober ini aku ingin kembali sedikit bercerita tentang secercah kisah di bulan September yang lambat laun mungkin terlupakan di jutaan benak rakyat Indonesia tapi tidak dihati kami yang masih percaya akan mimpi putih yang segera menghampiri tanah pertiwi.
Sampai detik ini, ratusan bahkan jutaan persoalan bangsa ini belum selesai, sebagian diantaranya menyangkut HAM. September selalu saja berhasil mengingatkanku akan persoalan HAM yang dialami negeri ini. Aku bukan aktivis HAM, aku juga tak pernah menyuarakan HAM didepan istana negara, aku tak lebih dari seorang gadis yang mungkin punya sedikit waktu untuk membaca sepenggal sejarah HAM dan menuangkan setitik hasil bacaan itu dalam paragraf seiring doa agar tulisan ini berguna untuk anak negeri.
Ada yang mengatakan bangsa kita adalah bangsa pelupa, kita melupakan jutaan persoalan negara ini dan membiarkannya terkubur oleh zaman. Tapi taukah kalian, ternyata 'masih' ada sejumlah sosok yang mencoba melawan. Berjuang agar kita tidak lupa. Tidak lupa akan keadilan yang tetap harus ditegakkan.
Maria Katarina Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atmajaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi I masih menuntut keadilan. Tewasnya putra-putri Sumarsih dan orangtua korban lainnya masih tersangkut di Kejaksaan Agung hingga kini, tapi mereka tak pernah bosan untuk menanti.
Indra Azwan, pria yang berumur 53 tahun ini rela berjuang hingga ajal menjemput demi keadilan atas meninggal putrnya. Rifki Andika yang saat itu masih berusia 12 tahun menjadi korban tabrak lari oelh mobil yang dikendarai oknum Perwira Polisi dan pelakunya seolah tak tersentuh hukum. Hampir 20 tahun perjuangannya di jalanan menuntut keadilan, ia pun mengadu ke Komnas HAM, Ombudsman, Kompolnas, Mabes Polri, Kommisi III DPR RI, Satgas Mafia Hukum dan jika tidak akan langsung kerumah Presiden dan yang terakhir ke Mekkah, mengadu pada Allah karna belum juga ditemukan keadilan.
26-12-04 ratusan ribu orang menjadi korban tsunami Aceh dan menghabiskan hidupnya di barak pengungsian. BRR menjanjikan 6000 rumah untuk para korban, namun janji tersebut bermasalah seiring dengan berakhirnya tanggung jawab BRR 2009 lalu. Sebanyak 1569 rumah pun belum direalisasikan dan warga hanya menunggu janji karna mediasi tak membuahkan hasil nyata. Kini janji hanya tinggal janji, 8 tahun para korban tsunami hanya menjadi saksi hidup janji-janji kosong pemerintah.
Tahun ke-4 skandal Bank Century belum menemukan kata tamat. Siput Lokasari yang dananya tertanam 5,4 M dan nasabah lainnya masih terus berjuang. Nasabah yang menjadi korban reksadana fiktif ini saling menguatkan diri, sebagian dari mereka frustasi bahkan bunuh diri.
Terakhir adalah Suciwati, istri Alm. Munir, aktivis HAM yang tak kenal lelah menyuarakan keadilan untuk rakyat kecil selama 8 tahun ini belum juga terugkap. Hasil otopsi Munir oleh Institut Foresik Belanda membuktikan Munir meninggal akibat Arsenikum dalam dosis fatal.
Kini Suciwati dan korban ketidakadilan lainnya terus melakukan aksi 'kamisan' di depan istana negara sambil membesarkan kedua buah hatinya. Aksi Kamisan adalah aksi payung hitam dan aksi diam di depan istana negara setiap hari Kamis. Aksi Kamisan semenjak tanggal 18 Januari 2007, Sumarsi dan para korban pelanggaran HAM lainnya menulis 239 surat kepada Presiden. Selama ini surat-surat itu ditulisn dan dikirim ke Sekretariat Negara saat mereka melakukan aksi di depan Istana Negara. Sumarsih, Indra, Siput dan Suciwati hanyalah sebagian kecil dari potret penegakan HAM negeri ini tapi yang perlu kalian ingat mereka tak berhenti sampai sini, hingga jutaan pasang mata melihat dan mendengar jeritan tangis rakyat negeri ini, mereka tak mengenal lelah menunggu keadilan berdiri tegar di bumi pertiwi.
- Sonia Adilia -