Ballroom Harris Hotel pagi ini mendadak ramai dipenuhi para
peserta Workshop Fotografi yang tengah sibuk mendaftarkan diri mereka
untuk segera memasuki ruangan. Workshop bertemakan Sapu Jagat ini
dihadiri langsung oleh Arbain Rambey.
Satu
persatu peserta yang hadir dengan bersemangat mulai menuliskan nama
pada kartu tanda pesertanya dan sebagian sambil berharap nomor peserta
yang tertera pada kartu tersebut akan keluar pada Door Price yang
disediakan panitia dari pihak Kepri Foto.
Arbain
Rambey adalah fotografer senior di harian Kompas dan telah berhasil
meraih berbagai penghargaan baik di tingkat nasional maupun
internasional. Sejak tahun 1989, ia telah memulai kariernya di dunia
fotografi. Pria yang awalnya adalah insinyur teknik sipil lulusan
Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mencoba untuk mendedikasikan
kepiawaiannya dalam membidik objek namun juga peduli dengan perkembangan
fotografi di Indonesia.
Workshop ini awalnya cukup mengejutkan
saya karena pesertanya ternyata jauh lebih ramai dari workshop-workshop
fotografi yang digelar sebelumnya. Kurang lebih 170 peserta menyempatkan
diri untuk hadir dalam acara yang tidak hanya workshop fotografi
melainkan juga street hunting dan photo competition ini.
“Jarang-jarang
loh ada seminar oleh Om Arbain ini, kebetulan sekali ini diadakan di
Batam jadi gak heran kalau ramai sekali”, ujar salah seorang peserta
yang hadir pada kesempatan ini.
Satu jam pertama workshop ini
dibuka dari pihak sponsor salah satu brand lensa yang langsung datang
dari Jepang untuk memamerkan koleksi lensa terbaru mereka yang akan
launching di Indonesia bulan depan.
Presentasi ini cukup menarik
walaupun narasumber menyampaikan presentasinya menggunakan bahasa
inggris, tidak sedikit dari peserta yang ingin bertanya langsung
mengenai keunggulan lensa yang akan dikeluarkan sebulan mendatang.
Selayang
pandang mengenai Arbain Rambey pun mulai dibacakan kedua MC yang hadir
saat itu sebelum materi dimulai. Arbain memulai materinya dengan hal-hal
dasar yang sering disalah artikan para fotografer dalam fotografi yang
kemudian diselingi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi oleh para
peserta.
Salah seorang peserta sempat bertanya mengenai izin jika
kita ingin memotret orang lain, dan jawaban Arbain sangat sederhana.
“Motret itu sopan, tidak perlu izin jika ingin motret, izin itu jika
foto tersebut ingin dipublikasikan," jawab Arbain enteng diiringi dengan
tawa renyah para peserta yang hadir.
Arbain menjelaskan kepada
para peserta untuk tidak takut bermain dengan auto focus, ia malah
menganggap kamera itu perlu diajak berfikir dengan mengatur sendiri
kecanggihannya, selebihnya kita sebagai fotografer hanya perlu
konsentrasi dalam mengatur posisi, waktu dan komposisi.
Kreativitas
itu dibutuhkan dalam fotografi, jangan takut untuk meniru ide dari
foto-foto sebelumnya dan digabungkan dengan ide-ide foto yang kita
miliki. Einstein sendiri mengatakan bahwa meniru itu baik jika tidak
ketahuan apa yang ditiru karna pada kenyataannya good artist copy and
bad artist still.
Motret jurnalistik itu tidak selalu berhubungan
dengan humanis melainkan apapun. Apapun bias jadi objek foto, tekstur
aspal di parkiran pun akan terlihat menarik jika komposisinya pas, jadi
tidak ada alasan tidak ada objek.
Menurut Arbain, motret itu
tugas mulia, terkadang kita harus tega motret sesuatu yang sadis
sekalipun, karena nantinya foto itu kelak akan bercerita tentang sesuatu
hal yang sebenarnya terjadi.
Berbagai materi yang Arbain
sampaikan akhirnya diakhiri pukul 14.00 WIB dan segera dilanjutkan
dengan acara street hunting yang akan diambil dari berbagai lokasi
seperti Engku Putri, tulisan Welcome to Batam dan arsitektur Masjid Raya
Batam.
Sebelum acara street hunting panitia memberikan jeda
waktu selama satu jam untuk para peserta beristirahat karna jadwal
hunting ternyata lebih cepat dari jadwal yang sudah dijanjikan.
Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan secara maksimal bagi para peserta
untuk foto bersama dengan Arbain Rambey didepan badrop yang disediakan
oleh panitia.
Ekspresi saat ngobrol dengan Arbain Rambey
Kesempatan ini juga tentunya saya manfaatkan untuk
berfoto bersama Arbain Rambey namun sempat terlintas di pikiran saya
bagaimana jika fotografer handal seperti Arbain jika dijadikan model dan
harus mengikuti gaya yang diarahkan kepadanya.
Sontak saja
setelah hasil jepretan pertama dengan gaya andalan Abrain dengan
mengacungkan jempolnya saya memintanya untuk mempraktekkan satu gaya
yang menurut saya konyol apalagi untuk fotografer sekelas Arbain.
Bayangkan saja saya memintanya untuk bergaya seperti rolling stones atau
mengeluarkan lidahnya yang kemudian saya juga mengikuti gaya yang sama
berfoto disebelahnya.
Ternyata Arbain itu tidak hanya sosok yang
imajinatif melainkan juga lucu, berbagai canda tawanya keluar saat saya
memintanya memeragakan gaya tersebut. Tentu kalian tidak terbayang
bukan pria seumuran Arbain dengan jam motret yang sangat tinggi kini
memperagakan gaya ala Rolling Stones. Arbain Rambey Best deh pokoknya.
Ini dia foto ala rolling stone with arbain rambey
Arbain
Rambey adalah sosok fotografer yang harus diikuti oleh para fotografer
lain di negeri ini, beliau bukan hanya sosok yang inspiratif tapi juga
sosok yang peduli akan kelangsungan fotografi negeri ini.
Terimakasih
Om Arbain untuk satu hari sharing ilmu fotografinya, teruskan kicauan
fotografimu dalam berbagai karya-karya terbaik lainnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar