Minggu, 10 Juni 2012

Sehari Bersama Arbain Rambey

Ballroom Harris Hotel pagi ini mendadak ramai dipenuhi para peserta Workshop Fotografi yang tengah sibuk mendaftarkan diri mereka untuk segera memasuki ruangan. Workshop bertemakan Sapu Jagat ini dihadiri langsung oleh Arbain Rambey.

Satu persatu peserta yang hadir dengan bersemangat mulai menuliskan nama pada kartu tanda pesertanya dan sebagian sambil berharap nomor peserta yang tertera pada kartu tersebut akan keluar pada Door Price yang disediakan panitia dari pihak Kepri Foto.

Arbain Rambey adalah fotografer senior di harian Kompas dan telah berhasil meraih berbagai penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional. Sejak tahun 1989, ia telah memulai kariernya di dunia fotografi. Pria yang awalnya adalah insinyur teknik sipil lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mencoba untuk mendedikasikan kepiawaiannya dalam membidik objek namun juga peduli dengan perkembangan fotografi di Indonesia.

Workshop ini awalnya cukup mengejutkan saya karena pesertanya ternyata jauh lebih ramai dari workshop-workshop fotografi yang digelar sebelumnya. Kurang lebih 170 peserta menyempatkan diri untuk hadir dalam acara yang tidak hanya workshop fotografi melainkan juga street hunting dan photo competition ini.

“Jarang-jarang loh ada seminar oleh Om Arbain ini, kebetulan sekali ini diadakan di Batam jadi gak heran kalau ramai sekali”, ujar salah seorang peserta yang hadir pada kesempatan ini.

Satu jam pertama workshop ini dibuka dari pihak sponsor salah satu brand lensa yang langsung datang dari Jepang untuk memamerkan koleksi lensa terbaru mereka yang akan launching di Indonesia bulan depan.

Presentasi ini cukup menarik walaupun narasumber menyampaikan presentasinya menggunakan bahasa inggris, tidak sedikit dari peserta yang ingin bertanya langsung mengenai keunggulan lensa yang akan dikeluarkan sebulan mendatang.

Selayang pandang mengenai Arbain Rambey pun mulai dibacakan kedua MC yang hadir saat itu sebelum materi dimulai. Arbain memulai materinya dengan hal-hal dasar yang sering disalah artikan para fotografer dalam fotografi yang kemudian diselingi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi oleh para peserta.

Salah seorang peserta sempat bertanya mengenai izin jika kita ingin memotret orang lain, dan jawaban Arbain sangat sederhana. “Motret itu sopan, tidak perlu izin jika ingin motret, izin itu jika foto tersebut ingin dipublikasikan," jawab Arbain enteng diiringi dengan tawa renyah para peserta yang hadir.

Arbain menjelaskan kepada para peserta untuk tidak takut bermain dengan auto focus, ia malah menganggap kamera itu perlu diajak berfikir dengan mengatur sendiri kecanggihannya, selebihnya kita sebagai fotografer hanya perlu konsentrasi dalam mengatur posisi, waktu dan komposisi.

Kreativitas itu dibutuhkan dalam fotografi, jangan takut untuk meniru ide dari foto-foto sebelumnya dan digabungkan dengan ide-ide foto yang kita miliki. Einstein sendiri mengatakan bahwa meniru itu baik jika tidak ketahuan apa yang ditiru karna pada kenyataannya good artist copy and bad artist still.

Motret jurnalistik itu tidak selalu berhubungan dengan humanis melainkan apapun. Apapun bias jadi objek foto, tekstur aspal di parkiran pun akan terlihat menarik jika komposisinya pas, jadi tidak ada alasan tidak ada objek.

Menurut Arbain, motret itu tugas mulia, terkadang kita harus tega motret sesuatu yang sadis sekalipun, karena nantinya foto itu kelak akan bercerita tentang sesuatu hal yang sebenarnya terjadi.

Berbagai materi yang Arbain sampaikan akhirnya diakhiri pukul 14.00 WIB dan segera dilanjutkan dengan acara street hunting yang akan diambil dari berbagai lokasi seperti Engku Putri, tulisan Welcome to Batam dan arsitektur Masjid Raya Batam.

Sebelum acara street hunting panitia memberikan jeda waktu selama satu jam untuk para peserta beristirahat karna jadwal hunting ternyata lebih cepat dari jadwal yang sudah dijanjikan. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan secara maksimal bagi para peserta untuk foto bersama dengan Arbain Rambey didepan badrop yang disediakan oleh panitia.

             Ekspresi saat ngobrol dengan Arbain Rambey

Kesempatan ini juga tentunya saya manfaatkan untuk berfoto bersama Arbain Rambey namun sempat terlintas di pikiran saya bagaimana jika fotografer handal seperti Arbain jika dijadikan model dan harus mengikuti gaya yang diarahkan kepadanya.

Sontak saja setelah hasil jepretan pertama dengan gaya andalan Abrain dengan mengacungkan jempolnya saya memintanya untuk mempraktekkan satu gaya yang menurut saya konyol apalagi untuk fotografer sekelas Arbain. Bayangkan saja saya memintanya untuk bergaya seperti rolling stones atau mengeluarkan lidahnya yang kemudian saya juga mengikuti gaya yang sama berfoto disebelahnya.

Ternyata Arbain itu tidak hanya sosok yang imajinatif melainkan juga lucu, berbagai canda tawanya keluar saat saya memintanya memeragakan gaya tersebut. Tentu kalian tidak terbayang bukan pria seumuran Arbain dengan jam motret yang sangat tinggi kini memperagakan gaya ala Rolling Stones. Arbain Rambey Best deh pokoknya.
            Ini dia foto ala rolling stone with arbain rambey

Arbain Rambey adalah sosok fotografer yang harus diikuti oleh para fotografer lain di negeri ini, beliau bukan hanya sosok yang inspiratif tapi juga sosok yang peduli akan kelangsungan fotografi negeri ini.

Terimakasih Om Arbain untuk satu hari sharing ilmu fotografinya, teruskan kicauan fotografimu dalam berbagai karya-karya terbaik lainnya.

Tidak ada komentar: