Tangis dan tawamu hanya berlebihan saat kau lupa bahwa hidup hanyalah akting dari naskah semesta yang belum siap kau baca seutuhnya.
Rabu, 28 November 2012
Kamis, 22 November 2012
Adilia Quotes of The Day
jangan terkecoh, manisnya gula tidak telihat dari warnanya begitu juga dengan pahitnya kopi.
Jumat, 16 November 2012
Adilia Quotes of The Day
When some things go wrong
take a moment be thankful for the many more
things that are still going right.
Remember :
life will keep bringing
you the same test over and over again
till you pass it.
dongeng Marsinah
Marsinah buruh pabrik arloji
mengurus presisi
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi
waktu memang tak pernah kompromi
ia sangat cermat dan pasti.
waktu memang tak pernah kompromi
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi.
kami ini tak banyak kehendak
sekedar hidup layak
sebutir nasi.
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi.
kami ini tak banyak kehendak
sekedar hidup layak
sebutir nasi.
Marsinah, kita tahu tak bersenjata
ia hanya suka merebus kata sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
Di hari baik bulan baik
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan
Ia diantar ke rumah Siapa
ia disekap di ruang pengap
ia diikat ke kursi
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air
ia tidak diberi nasi
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
ia tidak diberi nasi
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu
kepalanya ditetak
selangkangnya diacak-acak
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
kepalanya ditetak
selangkangnya diacak-acak
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
Marsinah pun abadi.
Di hari baik bulan baik
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli
meregang waktu bersaksi:
dan tak pernah ambil peduli
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan
sempurna, sendiri.
dan dicampakkan
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman?
Apakah sebenarnya sumber keserakahan?
Apakah sebenarnya azas kekuasaan?
Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Saya ini Marsinah,buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir ke dunia lagi
jangan saya dikirim ke neraka itu lagi.
Saya ini Marsinah, saya tak mengenal wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang di poster-poster itu
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang di poster-poster itu
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan tangan kita ini
melingkar di pergelangan tangan kita ini
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(1993-1996)
penyair
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!
widji thukul, 19 Januari 1988
Retro Kitchen Design Sets and Ideas
It is fun to once in a while look back and see what was considered cool
and trendy during the past. In this post we take a look at the kitchens
of yesteryear – those from 1920s to 1960s.
Kitchens then used bold colors like yellow, blue and jadeite green
with checkerboard floors and vivid patterns. Also prominent were the
painted cabinets, glass knobs, vintage linens and conspicuous electrical
appliances that were meant to be used for long periods. In those days,
the throwaway mentality was unheard of and people preferred to repair
and re-use rather than replace.
Finding retro kitchens on the web is not an easy task. We could
always use more help. If you come across any retro kitchen that you
think need to be featured here
.1953 Retro American Kitchen
1930 Retro Style ‘Chrome’ Kitchen
1930 Armstrong Kitchen
1930s All Purpose Retro Kitchen
Jumat, 09 November 2012
pilkada
media mulai ribut
isu ini isu itu
liput ini liput itu
gusur ini gusur itu
gusur ini gusur itu
sebagian penonton percaya mutlak
sebagian menanti episode berlanjut
dan sebagian lagi tersenyum
sambil menagih janji-janji
yang kemarin menggema disuarakan
ini bukan soal jas
bukan soal kumis
bukan soal kemaja kotak
bukan pula soal sendal jepit bahkan agama
ini soal janji yang beratasnamakan demokrasi
bercermin dari masa lalu
saat kekuasaan membutakan nurani
mereka masih menggandeng yang mang aku kan dirinya ulama
hingga merapat
dan kemudian
bagaimana dengan umat?
lisannya alat untuk membabi buta
mencari muka
jilat sana jilat sini
terang-terangan
pejamkan mata
tutup telinga rapat-rapat
lalu rakyat?
mereka masih saja berlomba menyilaukan citra
mengkinclongkan nama
menjual tampang
saat ditanya rakyat
jiwannya kaku
lidahnya kelu
penguasa itu buruh rakyat
bukan pemilik negara
seenaknya menjual aset bangsa
lalu kami, rakyat Indonesia
kau gadaikan dengan harga berapa?
-Sonia Adilia-
-Sonia Adilia-
terlambat
Cukup sudah kesalahan kali ini
Jangan sampai semua terulang kembali
Keraguan dalam hatiku harus ku buang jauh
Bila ingin mendapatkan yang terbaik
Pengalaman pahit yang ku jadikan pelajaran
Dalam hidup yang tak akan terlupakan
Jangan menunda sesuatu untuk dikerjakan
Jangan tunda
Jangan tunda...
Sabtu, 03 November 2012
Adilia Quotes of The Day
pudarnya kekakuan kenyataan keadaan yang kemarin singgah kini berevolusi putihnya mimpi yang terpantul tegas di retina matamu, ini bukan soal rupiah tapi soal sejarah kecerdasan kehidupan, dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)





