Kamis, 26 Juli 2012

mimpi buruk

Astagfirullah, aku langsung terjaga dari tidurku. Mimpi apa barusan? kenapa harus mimpi seperti itu? berbagai pertanyaan mulai membanjiri benakku.

Dering ponselku pun berbunyi, kulihat nama yang tertera dilayarnya, Rina.. nama itu secara otomatis tertera disana dan dengan setengah sadar aku pun mengangkat panggilan itu.

Halloo.. aku memulai pembicaraan di telfon itu. Soooon! Rina berteriak, entah kenapa dan aku pun segera menanyakan. Kenapa, kenapa? Baik-baik kan Son, aku mimipi buruk banget, ngeri.

Sontak saja aku langsung duduk dan mulai berkonsentrasi dengan pembicaraan itu. Aku mimpi buruk kali tadi malam Son, aku mimpi kamu kecelakaan ditabrak truk dan sudah tak berbentuk lagi. Saat itu aku ada di belakangmu, kamu boncengan dengan temanmu didepan, Rina tanpa henti terus saja menjelaskan tentang mimpinya.

Kamu tau yang tersisa apa? seperti biasa kamu saat itu sedang memegang kertas tugas kita dan disana tertera ada nama kita dan Felly. Felly adalah teman baikku di kampus selain Rina, biasanya kami selalu sekelompok saat mengerjakan tugas.

Aaaaa Soniaaaa, aku mau nangis loh tadi pagi gara-gara mimpi itu, aku dibangunkan kakakku gara-gara meneriaki namamu. Kamu baik-baik aja kan Son? Rina melanjutkan ceritanya.

Aku masih saja bungkam, mencoba membanyangkan apa yang diceritakan Rina, terdengar seram sekali hingga aku sendiri tak sanggup membayangkannya. Dengan perasaan yang bercampur aduk aku pun menjawab kalau aku baik-baik saja.

Aku pun mulai mengingat jalan-jalan yang kulalui tiap malam akhir-akhir ini mengingat aku hampir setiap malam mengikuti pelatihan design grafis di media Tribun Batam yang terletak di Batu Ampar, ya lokasi itu memang di penuhi dengan truk dan mobil-mobil besar lainnya.

Bulu kudukku pun merinding, aku tak bisa berkata banyak saat itu di telepon karna aku pun baru saja mimpi buruk, kurang jelas apa yang terjadi di mimpi itu yang jelas aku tak henti-hentinya menangis dalam mimpi itu.

Ya Allah, jaga hamba dan keluarga Hamba.. mudah-mudahan mimpi ini bukan pertanda buruk untuk kami ya Allah, amin.

Sabtu, 21 Juli 2012

mungkin

mengapa ini harus terjadi
kau berhenti di hati ini
saat ku ada yang memiliki
mengapa ini harus terjadi

ku tak mau menyakitinya
tapi ku tak mau kehilangan dirimu

mungkin aku harus melepasmu
mungkin aku harus lupakanmu
ku tak tau, ku tak tau
mungkin..

#just lyric

Jumat, 20 Juli 2012

Ketika Matahati Bicara

Peristiwa demi peristiwa kini tak lagi berkompromi dengan sang waktu. Setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik ada saja kejadian yang membanjiri berita tanah air di tiap sendi kehidupan. Mulai dari ranah pemerintahan, hukum yang kini terlihat semu, denyut perekonomian, perang politik, kriminalitas, musibah dan nafsu besar DPR yang tak membiarkan media berkedip sekali saja untuk menyorotinya.

Rangkaian peristiwa inilah yang disusun oleh Ahmad Suroso selama menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Harian Tribun Batam sebagai refleksi dari hati ke hati lewat untaian kata sebagai daya akal pikir kepada pembaca.

Buku ini berisi tentang berbagai topik yang hangat diperbincangkan publik, kasus lama yang mengerucut hingga kasus-kasus yang mulai redup karna kalah terang dengan kasus lain. Sikap kritis, ekspresif, optimis dan kegalauan penulis untuk ‘menyentil’ pihak berwenang untuk terus mengatasi keadaan turut mewarnai buku ini.

Dimulai dari runtuhnya keadilan yang menyorot soal kebusukan Gayus, remisi koruptor yang melukai hati rakyat dan jurus lupa Nunun. Disusul dari pemerintahan soal misteri Kapolri, evaluasi pendidikan, enaknya jadi pejabat hingga happy ending Sri Mulyani yang disuguhkan singkat namun padat setiap judulnya.

Denyuk politik dan perekonomian Kepri tentu saja tidak ketinggalan. Mengupas tentang Pilwako Batam, lokomotif FTZ, hari-hari tanpa atribut dan BPR yang tumbuh kinclong di Batam dibahas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca tak perlu mengernyitkan kening saat membaca buku ini.

Fenomena menarik dari sekian banyak tulisan penulis adalah mengenai pasang surut hubungan Indonesia-Malaysia dan habis Kartini terbitlah Jupe beserta artis artis dangdut lainnya yang ikut mencalonkan diri menjadi bupati/wakil bupati daerah asalnya.

Kompleksitas peristiwa diatas tentu saja mencuri perhatian pembaca untuk membolak-balik halaman demi halaman dalam buku ini. Cover yang disajikan menarik tentu saja membuat buku ini pantas dibaca oleh berbagai kalangan sebagai eneergi posotif atau menambah wawasan pembaca menuju arah perubahan yang lebih baik. Selamat membaca.

Judul Buku: Ketika Matahati Bicara
Pengarang: Ahmad Suroso
Tebal buku: 288 halaman
Penerbit: PT Grafika Wangi Kalimantan
Peresensi: Sonia Adilia, mahasiswi fakultas hukum Universitas Internasional Batam

Terimakasih


Maaf
Aku tlah menjadi mimpi burukmu
Mengajakmu singgah dalam duniaku
Meninggalkan sepotong kenangan dihidupmu

Tinggalkan aku
Jauhi aku
Lupakan aku

Jika benar kau punya cinta
Pergilah dengannya
Cintamu yang baru

Karna aku bukan biduanmu
Atau dewi berhatikan emas
Terima kasih untuk semuanya


pikiran, tangan dan hati mulai sinkron

Rasanya ingin  sekali menulis, setiap saat kalau perlu karna terlalu banyak kejadian menarik, terlalu banyak kejutan, terlalu banyak ide yang terlintas hingga terlalu banyak yang membanjiri pikiran ini. Akhirnya menunda, tunda dan tunda. Penyakit akut yang tak juga ketemu obatnya.

Galau yang berkepanjangan, stress yang menyusul, malas yang menyelimuti hingga akhirnya Allah selalu memberikan jalan untuk hambanya yang memohon. Pada akhirnya kesibukan mengalahkan semuanya, mata-marta yang kurang jam tidur tapi terbayar oleh sambutan dan pujian untuk Kamar Butik di Fashion Expo, nanti pasti kutuliskan deh ceritaku soal ini tapi nanti ya *tunda lagi*.

Alhamdulillah semua mulai membaik, keadaan keluarga yang mulai mendingin, bisnis yang mulai menghirup  bau rupiah, ide yang tak henti bermunculan, semangat tingkat RT seiring Allah mengirimkan seseorang yang semoga menjadi orang yang tepat dan tak hanya singgah nantinya, amin.

Dan sekarang ketika semua mulai sinkron hingga tercipta kerjasama yang baik maka mari menulis lagi, pertama resensi buku dulu aja ya. Aku masih harus motret, editing dan uploading nih kejar deadline mumpung momentnya mau lebaran, bismillah..