Jumat, 16 November 2012

dongeng Marsinah


Marsinah buruh pabrik arloji
mengurus presisi
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi
waktu memang tak pernah kompromi
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi.
kami ini tak banyak kehendak
sekedar hidup layak
sebutir nasi.

Marsinah, kita tahu tak bersenjata
ia hanya suka merebus kata sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

Di hari baik bulan baik
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan
Ia diantar ke rumah Siapa
ia disekap di ruang pengap
ia diikat ke kursi
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air
ia tidak diberi nasi
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu
kepalanya ditetak
selangkangnya diacak-acak
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
Di hari baik bulan baik
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman?
Apakah sebenarnya sumber keserakahan?
Apakah sebenarnya azas kekuasaan?
Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Saya ini Marsinah,buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir ke dunia lagi
 jangan saya dikirim ke neraka itu lagi.

Saya ini Marsinah, saya tak mengenal wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang di poster-poster itu
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan tangan kita ini
 dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(1993-1996)

Tidak ada komentar: