Senin yang tanpa rencana ini aku mengunjungi kembali keluarga kecil ini dan tenyata disana ada kejutan kecil dari Allah. Aku dipertemukan dengan seorang pria yang kira-kira umurnya tidak jauh lebih tua dariku. Tanda tanya jelas menghampiriku ketika Alif dengan gayanya yang khas meledekku setelah beberapa menit aku tiba dirumah itu 'bentar lagi ada cowo ganteng dateng loh' tuturnya.
Alif yang sudah seperti adikku sendiri itu memang sering menjahiliku, ya maklumlah mungkin karna pilihanku yang hingga kini belum memutuskan untuk pacaran dan mungkin Allah belum mempertemukanku dengan pria yang ditepat di waktu yang tepat pula. Tapi apapun itu, aku selalu menjawabnya dengan senyuman.
Tidak lama kemudian, pria yang menurutku sedikit berwajah Arab itu datang dan menghampiri kami hingga akhirnya Tante Sinta memperkenalkannnya, ya namanya ternyata Gideon. Tapi hingga kini kami semua memanggilnya, Jidden.
Sejauh ini ternyata Tante Sinta, Alif dan Jidden mempunyai rencana untuk bergerak bersama dibidang pendidikan dan tentunya aku mulai tertarik kedalam pembicaraan mereka. Setelah menjelaskan sedikit tentang arahnya, aku mulai mengerti dan ada semangat yang akhirnya tumbuh didiri ini.
Ide-ide mulai berkecambuk di otakku dan yang jelas sekarang kami semua ingin mewujudkan mimpi itu, dan Jidden datang untuk menjawab mimpi buruk yang mengahantui fikiranku tentang bagaimana nasib anak bangsa ini. Pesimis dan kesedihan saat membayangkan bangsa ini kedepannya pun kemudian terkikis secara perlahan.
Anehnya hari ini jadwal kuliahku sudah sangat mepet dan seharusnya aku sudah menuju kampus namun aku merasa tetap ingin berkunjung kesana da anehnya ternyata Jidden ada jadwal mengajar sore itu, bahkan ia sebelumnya sudah tiba di tempat dia mengajar namun ia malah menundanya untuk mengganti keesokan harinya. Mungkin ini bukan sebuah keanehan diantara kami, aku percaya tidak ada yang kebetulan didunia ini, pertemuan aku dan dia telah diatur digarisNya. Kini kami bergandeng tangan bersama, berserah pada Allah dan tak hentinya berucap syukur dan berdoa untuk niat baik ini.
Jidden menjadi jawaban, ditengah carut marutnya birokrasi bangsa ini, ketika keadilan sulit ditemukan di kalangan mereka yang membutuhkan dan pendidikan hanya menjadi mimpi bagi mereka yang tak punya rupiah, aku dan dia memulai langkah bersama untuk mewujudkan mimpi ini. Anak-anak bangsa, jangan khawatir ternyata masih ada orang baik ditengah dunia yang semakin kejam ini. Doakan kami, semoga Allah melindungi jalan Kami, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar