Selasa, 23 Oktober 2012

silahturahmi

Senin ini langkahku teriring untuk kembali mengunjungi keluarga kecil yang sudah lama tidak ada pertemuan seperti yang biasanya kami lakukan. Bukan menghilang dan tak ingin menghilang tapi aku masih saja membutuhkan waktu untuk berfikir jernih dan dan aku menyadari untuk kembali jernih itu tentu saja memakan waktu. Berfikir secara jernih inilah yang nantinya dapat menarik perlajaran-pelajaran berharga dari bisnis yang mungkin tertunda. Tapi akhirnya intropeksi dan pelajaran-pelajaran yang aku alami kemarin lebih dari uang sekalipun.

Aku sama sekali tidak merasa gagal dalam bisnis itu, tapi ya aku percaya semua manusia di bumi ini hanya bisa berencana dan semua bergantung atas izin-Nya. Ini bukan berarti Allah tak mendengarkan kami, tapi mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuk kedepannya.

Rencana bisnis yang sudah kukemas dan mimpi yang terpaksa harus kukubur pelan-pelan kemarin mungkin memang mengajakku untuk hanyut terlalu dalam dikesedihan. Aku sendiri tau mungkin aku tipikal orang yang selama ini tidak pernah gagal, ralat deh mungkin bukan tidak pernah gagal tapi ketika aku memutuskan untuk menyelami sesuatu, minimal harus terlaksana dan mencapai 'sesuatu'. Tapi lagi-lagi dua kegagalan terjadi lagi saat bisnis sistem join terbentuk.

Trauma dengan bisnis sistem join? heem dalam hidupku mungkin aku tak mengenal kata trauma tapi jelas kesedihan itu pasti ada. Tapi aku sadar kesedihanku takkan mengubah keadaan yang terjadi melainkan sudah waktunya aku bangun kembali dari mimpi kesedihan kemarin dan menebusnya dengan ide-ide yang di anugerahkan Tuhan. Hingga senin ini, saat mimpi kesedihan itu berakhir dengan cuma waktu yang akhirnya bisa menyembuhkannya, aku harus kembali mengunjungi keluarga kecil ini.

Apapun yang terjadi, paling tidak aku harus gentleman deh istilahnya atau mempertanggung jawabkan apa yang sudah disepakati kemarin. Ada atau tidaknya Yoko bukan masalah, masalah tanggung jawab itu personal, dan jika aku terus menunda akan ada rasa tanda tanya besar yang terus menghantuiku. Yoko, aku dan keluarga kecil ini ternyata merindukanmu, bermain-main lagi dan bagaimanapun, kamu masih tetap saudaraku. Semoga nanti Allah mengiring langkahmu untuk kita kembali bersilahturahmi lagi ya. Silahturahmi itu diatas segala-galanya teman.

Tidak ada komentar: