Kamis, 27 September 2012

sepotong cerita cinta


Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk kembali bercerita, mengurai kisah kepada kalian tentang sepotong cerita cintaku. Kenapa sepatong? Karna cerita ini tak utuh, pada akhirnya, mungkin. Sepotong cerita ini tak kualami sendiri, seperti sepotong pizza dengan taburan paprika, keju mozzarella dan daging asap atau bahkan seperti sepotong kue tart dengan lapisan coklat dan balutan cream vanilla diluarnya.


Itulah yang kusebut dengan sepotong cerita, cinta. Dalam cerita yang hanya sepotong ini aku tak berperan sendirian, aku tak merasakan hal ini sendirian. Ada aku dan dia bahkan mereka yang juga terlibat langsung atau bahkan menjadi saksi bisu ceritaku. Ada sebagian yang tak menyukai sepotong cerita ini dan ada sebagian yang bersorak setuju karna mungkin mereka juga merasakan hal yang sama. Tapi yang jelas, sepotong ini bukan hanya milikku sendiri, tapi miliknya bahkan mereka.

Cinta kata orang bisa datang pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Cinta tak mengenal kata permisi, tapi ia mengetuk pintu hatimu perlahan hingga akhirnya aku tersadar ia telah bersemayam di ruang yang lebih dalam. Sekelumit orang masih saja sibuk mencari definisinya, yang ku tau cinta itu bisa dirasa tanpa harus meraba makna yang bersembunyi dibaliknya.

Sang rasa pun mulai egois, tumbuh dan terpelihara dengan sendirinya tanpa memperdulikan sang waktu yang tak kalah egois. Sayangnya sang rasa sering kali tumbuh pada orang yang benar tapi di waktu yang salah. Bukan salah, mungkin tidak tepat.

Saat waktu tak berpihak padamu, lantas kau memutar kalimatmu ‘aku tak mencintaimu, lagi’?. Kurasa tidak sedangkal itu, jika kau benar-benar cinta, bukan itu jawabannya. Jadi kenapa kau masih saja mengeja definisi cinta itu, bukankah mereka menyebutnya indah? Kenapa tak cukup hanya kalian rasakan, saja?. Entah lebih besar mana, waktu atau ego dalam hal ini?

Saat rasa melebur jadi cinta yang terlihat sempurna, titik sakral mulai mengambil perannya hingga takkan ada yang sempurna, lagi. Kemudian siapa yang harus kalian salahkan? Sang Rasa? aku sepertinya tidak setuju tentang ini, karna Sang Rasa berasal dari Tuhan, jadi sama saja kau menyalahkan-Nya? Selanjutnya, waktu? waktu yang tak tepat seolah tak berpihak pada kita kemudian kau salib dengan lafas 'salah'. Tidak!

Akhirnya, kau menyalahkanku atau aku menyalahkanmu. Karena kita terlahir dari atap 'iman' yang berbeda. Atap itu sekalipun tak pantas kau salahkan atau bahkan kau tutor dengan berbagai pertanyaan kenapa dan kenapa kita terlahir diatap yang berbeda? Semakin kau bertanya, semakin takkan kau temukan jawabanya bukan?

Percayalah, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi karna garis yang telah ditentukan olehNya, Tuhan mungkin mengajarkan 'kita' tentang ikhlas dengan jalan sendiri. Atap kita mungkin berbeda tapi kebebasan berfikir mengajak kita untuk kembali menentukan pilihan, bukan soal keberanian belaka tapi 'keyakinan'.

Kau tak berhak memaksaku mngikuti ritualmu, begitu pula aku yang tak pernah memaksamu. Jalanmu, jalanku, kita masih begandeng tangan dan berjalan bersama tapi kelak mungkin tak berujung 'jalan kita'. Kau dan aku punya posisi yang sama di porsi yang sama pula hingga diantara kita tak bisa egois untuk memaksa begini begitu untuk karna jalan kita mungkin tak sama tapi kita harus menyudahi apa yang kita mulai, dulu.

Kita dan sekelompok orang yang terjebak dalam kondisi cinta yang rumit ini tentu masih mempunyai pengharapan akan keajaiban. Tapi mimpi tak selamanya bisa menjadi kenyataan.

Kini, waktu kita telah habis. Tapi kisah kita masih bergulir walau tak lagi di jalur yang utuh tapi perlahan waktu yang akan mampu menjawab semuanya. Tuhan tentu akan melanjutkan kisah kita dalam sepotong kisah lain menyusul perjalanan menemukan pendamping hidup hingga kisah ini tak lagi hanya sepotong, tapi utuh. Cinta akan menemukan jalannya masing-masing.

- Sonia Adilia

Tidak ada komentar: