Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk kembali bercerita, mengurai kisah kepada kalian tentang sepotong cerita cintaku. Kenapa sepatong? Karna cerita ini tak utuh, pada akhirnya, mungkin. Sepotong cerita ini tak kualami sendiri, seperti sepotong pizza dengan taburan paprika, keju mozzarella dan daging asap atau bahkan seperti sepotong kue tart dengan lapisan coklat dan balutan cream vanilla diluarnya.
Itulah yang kusebut dengan
sepotong cerita, cinta. Dalam cerita yang hanya sepotong ini aku tak berperan
sendirian, aku tak merasakan hal ini sendirian. Ada aku dan dia bahkan mereka
yang juga terlibat langsung atau bahkan menjadi saksi bisu ceritaku. Ada
sebagian yang tak menyukai sepotong cerita ini dan ada sebagian yang bersorak
setuju karna mungkin mereka juga merasakan hal yang sama. Tapi yang jelas,
sepotong ini bukan hanya milikku sendiri, tapi miliknya bahkan mereka.
Cinta kata orang bisa datang pada
siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Cinta tak mengenal kata permisi, tapi
ia mengetuk pintu hatimu perlahan hingga akhirnya aku tersadar ia telah
bersemayam di ruang yang lebih dalam. Sekelumit orang masih saja sibuk mencari
definisinya, yang ku tau cinta itu bisa dirasa tanpa harus meraba makna yang
bersembunyi dibaliknya.
Sang rasa pun mulai egois, tumbuh
dan terpelihara dengan sendirinya tanpa memperdulikan sang waktu yang tak kalah
egois. Sayangnya sang rasa sering kali tumbuh pada orang yang benar tapi di
waktu yang salah. Bukan salah, mungkin tidak tepat.
Saat waktu tak berpihak padamu,
lantas kau memutar kalimatmu ‘aku tak mencintaimu, lagi’?. Kurasa tidak
sedangkal itu, jika kau benar-benar cinta, bukan itu jawabannya. Jadi kenapa kau
masih saja mengeja definisi cinta itu, bukankah mereka menyebutnya indah? Kenapa
tak cukup hanya kalian rasakan, saja?. Entah lebih besar mana, waktu atau ego
dalam hal ini?
Saat rasa melebur jadi cinta yang
terlihat sempurna, titik sakral mulai mengambil perannya hingga takkan ada yang
sempurna, lagi. Kemudian siapa yang harus kalian salahkan? Sang Rasa? aku sepertinya
tidak setuju tentang ini, karna Sang Rasa berasal dari Tuhan, jadi sama saja
kau menyalahkan-Nya? Selanjutnya, waktu? waktu yang tak tepat seolah tak berpihak
pada kita kemudian kau salib dengan lafas 'salah'. Tidak!
Akhirnya, kau menyalahkanku atau
aku menyalahkanmu. Karena kita terlahir dari atap 'iman' yang berbeda. Atap itu
sekalipun tak pantas kau salahkan atau bahkan kau tutor dengan berbagai pertanyaan
kenapa dan kenapa kita terlahir diatap yang berbeda? Semakin kau bertanya,
semakin takkan kau temukan jawabanya bukan?
Percayalah, tak ada yang
kebetulan di dunia ini. Semua terjadi karna garis yang telah ditentukan
olehNya, Tuhan mungkin mengajarkan 'kita' tentang ikhlas dengan jalan sendiri.
Atap kita mungkin berbeda tapi kebebasan berfikir mengajak kita untuk kembali
menentukan pilihan, bukan soal keberanian belaka tapi 'keyakinan'.
Kau tak berhak memaksaku mngikuti
ritualmu, begitu pula aku yang tak pernah memaksamu. Jalanmu, jalanku, kita
masih begandeng tangan dan berjalan bersama tapi kelak mungkin tak berujung
'jalan kita'. Kau dan aku punya posisi yang sama di porsi yang sama pula hingga
diantara kita tak bisa egois untuk memaksa begini begitu untuk karna jalan kita
mungkin tak sama tapi kita harus menyudahi apa yang kita mulai, dulu.
Kita dan sekelompok orang yang
terjebak dalam kondisi cinta yang rumit ini tentu masih mempunyai pengharapan
akan keajaiban. Tapi mimpi tak selamanya bisa menjadi kenyataan.
Kini, waktu kita telah habis. Tapi
kisah kita masih bergulir walau tak lagi di jalur yang utuh tapi perlahan waktu
yang akan mampu menjawab semuanya. Tuhan tentu akan melanjutkan kisah kita
dalam sepotong kisah lain menyusul perjalanan menemukan pendamping hidup hingga
kisah ini tak lagi hanya sepotong, tapi utuh. Cinta akan menemukan jalannya
masing-masing.
- Sonia Adilia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar