Secara umum, filsafat tidak dianggap
sebagai sebuah disiplin ilmu yang praktis. Orang tua dari mahasiswa yang
memilih mempelajari filsafat berulang kali menerima keraguan dari
masyarakat mengenai prospek masa depan seorang lulusan filsafat dalam
dunia kerja.
Di Amerika Serikat yang tingkat
penyebaran entrepreneurshipnya sudah pesat pun, masih banyak anak muda
yang harus menyerah pada kenyataan dan menjadi lebih pragmatis dengan
meninggalkan impian mereka dalam mempelajari filsafat dan beralih ke
bidang hukum, pemerintahan, keuangan, penerbitan atau medis sebagai
sandaran hidup. Namun, tetap saja tak banyak yang memilih
entrepreneurship sebagai salah satu alternatifnya.
Sebuah pengalaman yang dimiliki
Christine Nasserghodsi saat sedang menyusun sebuah program pendidikan
entrepreneurship cukup menarik. Ia menemui sekelompok entrepreneur dari
seluruh dunia, mendengarkan cerita mereka dan mencari pola dalam
pengalaman yang mereka miliki. Bahkan dalam bidang yang spesifik dalam
hal ketrampilan seperti teknologi, banyak entrepreneur sukses dan
menunjukkan ketertarikan dalam mempelajari filsafat.
Saat ditanya mengenai bagaimana pendapat
mereka mengenai filsafat dan bagaimana filsafat berkontribusi dalam
keberhasilan sebagi entrepreneur, sejumlah entrepreneur ini mengaku
perlu membaca karya-karya filsuf terkenal dunia sebelum membuat
keputusan bisnis yang strategis.
Namun, mereka menemukan bahwa cara
berpikir, membangun hubungan dan mengadakan pendekatan terhadap masalah
berkembang melalui studi filsafat yang mendalam memiliki relevansi dan
manfaat bahkan setelah mereka tidak mempelajari filsafata secara
intensif layakanya mahasiswa. Meskipun memiliki latar belakang
pendidikan filsafat tak sepenuhnya menjamin seseorang sukses dalam
berbisnis, para lulusan filsafat menawarkan jenis-jenis ketrampilan dan
pengetahuan yang diperlukan dalam menjalankan sebuah bisnis.
Inilah beberapa ketrampilan yang bisa disumbangkan oleh para lulusan filsafat dalam membangun sebuah bisnis baru:
Menghasilkan cara unik untuk melihat masalah yang ada
Tugas-tugas yang mengharuskan mereka
mencari jawaban dari sebuah pertanyaan terbuka mendorong para mahasiswa
filsafat untuk menemukan dan mengambil aspek unik dari karya para filsuf
yang mereka pelajari, membangun kerangka berpikir dalam pertanyaan yang
menarik dan segar atau membuat koneksi otentik antara tulisan dua
pemikir yang berbeda. Demikian juga para entrepreneur harus mampu
menemukan dan memahami peluang-peluang unik dan baru dalam pasar yang
sudah ada di hadapan mereka.
Menemukan tema dan pola
Filsafat itu sendiri diatur oleh tema
dan ide besar yang dijawab oleh sang filsuf sendiri. Para mahasiswa
sering diminta untuk memikirkan bagaimana konsep dan teks berhubungan
satu sama lain dan berkembang dari salah satunya menjadi bentuk lain
yang berbeda. Dengan cara yang sama, para entrepreneur harus bisa
menerjemahkan data dan melihat tren serta pola melalui lensa yang
berbeda, dari para pengguna akhir hingga investor potensial.
Mengatur orang dan ide ke dalam sistem
Dalam artikel Bloomsberg Businessweek
tahun 2010 yang ia tulis, Philosophy is Back in Business, Dov Seidman
mengatakan krisis konsumsi, iklim dan kredit tak bisa dipecahkan
melalui keahlian spesialis saja. Masalah-masalah itu, seperti kebanyakan
masalah yang dihadapi perusahaan dalam pasar dunia, menghadirkan
interdependensi yang rumit yang membutuhkan pemahaman mengenai bagaimana
kepentingan politik, keuangan, lingkungan, etis dan social satu sama
lain. Sebuah pendekatan filosofis menghubungkan titik-titik antara
kepentingan yang bersaing dalam sebauh upaya untuk menciptakan sinergi.
Menyusun argument yang kokoh
Dalam berbagai pekerjaan, entah itu
menyusun rumusan business plan atau mempresentasikannya pada investor
potensial, para entrepreneur harus bisa menjelaskanmengapa mereka
memilih sesuatu. Demikian juga, Anda tidak perlu berpikir mengenai
bagaimana harus membuat penegasan dalam kelas filsafat kecuali Anda
sudah siap dengan dukungan pengetahuan. Apakah itu epistemology atau
akal sehat, membedakan antara pengetahuan dan asumsi dan mendukung
keduanya dengan alasan dan data pendukung, sangat penting artinya dalam
filsafat dan bisnis.
Menulis dan membaca dengan baik
Mempelajari filsafat membutuhkan kemauan
untuk membaca dan berpikir sehat mengenai teks yang padat dan
membosankan bagi kebanyakan orang. Selanjutnya mereka juga perlu
menuliskannya dengan jelas. Para entrepreneur perlu sekaliuntukmemiliki
kemampuan menjelaskan aspek-aspek kompleks dalam teknologi.
Paul Canetti yang dikenal sebagai
pendiri dan CEO Maz media yang juga lulusan filsafat membedakan
ketrampilan membingungkan dan praktis yang dikembangkan saat
mempelajari filsafat. Mereka yang mempelajari filsafat biasnaya memiliki
kemampuan membaca secara kritis dan menulis dengan jelas karena terasah
oleh kebiasaan belajarnya.
Dikutip dari http://www.ciputraentrepreneurship.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar