Sabtu, 04 Agustus 2012

suka duka Ramadhan

Ramadhan, bulan suci yang penuh berkah ini punya kejutan tersendiri hari ini. Alhamdulillah, akhirnya organisasi kelompok belajar yang selama ini mempunyai kegiatan seputar tulis-menulis ini dilirik oleh salah satu instansi. Tentu saja ini menjadi berita yang sangat bahagia untuk kami seluruh anggota Sahabat Muda dan para senior Aliansi Jurnalis Independen (AJI) saat acara buka puasa bersama berlangsung.

Hal ini tentu saja menjadi bukti bahwa tidak ada yang sia-sia dari sesuatu yang diawali dengan niat yang baik sekaligus membuktikan bahwa ikut organisasi itu bukanlah hal-hal yang membuang waktu melainkan banyak manfaat yang dapat kita serap dari berbagai sisi.

Tapi taukah kalian sebelum berita bahagia ini aku lontarkan, ada berita duka yang menyelimutiku hari ini. Sheila, salahs eorang sahabatku sejak masih duduk di bangku SMP harus dirawat di rumah sakit. Mama Ranti yang merupakan Mama dari salah seorang sahabatku bernama Ranti yang juga sahabatku sejak semasa SD memberitahu berita ini.

"sonia, udah jenguk sheila?" sepintas aku mengernyitkan kening saat pagi ini Mama Ranti menanyakan hal itu kepadaku. Sheila masuk rumah sakit? kenapa aku tidak tau akan hal itu, otakku masih saja dibanjiri pertanyaan-pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya hingga kami memutuskan untuk bergegas ke rumah sakit tempat dimana Sheila dirawat.

 Sepanjang jalan kami tak banyak bicara, sibuk dengan benak kami masing-masing dan kuperhatikan wajah Mama Ranti langsung berubah saat kutanyakan lebih lanjut. Sontak matanya berbinar, perasaanku mulai tidak enak. Kegelisahaan saat itu mulai menghampiriku, suara heels sepatu jelas terdengar mengisi lorong-lorong yang terlihat sepi pagi ini.

Assalamualaikum, kami mengucapkan salam saat memasuki kamar dimana Sheila dirawat. Aku terpaku ya benar-benar membisu melihat tubuh temanku dipenuhi selang-selang yang aku sendiri tidak tau persis apa saja fungsi masing-masing selang tersebut.

Senyumku terasa berat, tumpahan airmata ini seolah tak kuasa ku tahan untuk tak menetes. Mulutku masih belum sempat berkata sepatah kata pun akan keadaannya, bibir ini seolah membisu, lidah ini kelu. Akhirnya ku putuskan berlari keluar sejenak, menumpahkan airmata yang tak sanggup lagi kutahan.

"Sheila divonis dokter terkena kanker abdomen stadium 4 Sonia", Mama Ranti memelukku dari belakang sambil menangis. Berita itu seperti petir yang menyambar di siang bolong. Aku memang tau Sheila sakit tapi bukan kanker, bukan kanker stadium 4.

Sheila bahkan seminggu yang lalu sempat main ke Mega Mall saat butikku melangsungkan pameran busana. Kami sempat mengobrol, bercanda-tawa tapi tak berlangsung lama karna ia buru-buru dan aku harus melayani beberapa pengunjung yang mampir.
Cepat-cepat aku mengusap airmataku seolah tak mau kehilangan waktu untuk bersama Sheila. Dia tersenyum saat ku pegang erat tangannya, badanku mendadak lemas ketika menyadari selang panjang yang ada dihidungnya. Selang yang digunakan untuk mengeluarkan cairan yang terus keluar dari perutnya. Perutnya terus saja terasa padat dan kembung, hanya itu yang ia katakan sambil meringis kesakitan. Sheilaaaaaaaa, ingin rasanya aku berteriak dan memeluknya, tapi tak bisa.

Allah memang begitu sayang kepadanya, memberikan ujian-ujian untuk menghapus dosa-dosanya yang lalu karena Sheila memang anak yang sangat baik. Ya Allah, kami umatmu sadar bahwa ini ujian, tapi berilah kesembuhan untuk Sheila dan tak hentinya kami berucap syukur atas nikmat kehidupan yang masih Kau berikan kepada kami.

Tidak ada komentar: