Ramadhan, bulan suci yang penuh berkah ini punya kejutan tersendiri
hari ini. Alhamdulillah, akhirnya organisasi kelompok belajar yang
selama ini mempunyai kegiatan seputar tulis-menulis ini dilirik oleh
salah satu instansi. Tentu saja ini menjadi berita yang sangat bahagia
untuk kami seluruh anggota Sahabat Muda dan para senior Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) saat acara buka puasa bersama berlangsung.
Hal
ini tentu saja menjadi bukti bahwa tidak ada yang sia-sia dari sesuatu
yang diawali dengan niat yang baik sekaligus membuktikan bahwa ikut
organisasi itu bukanlah hal-hal yang membuang waktu melainkan banyak
manfaat yang dapat kita serap dari berbagai sisi.
Tapi
taukah kalian sebelum berita bahagia ini aku lontarkan, ada berita duka
yang menyelimutiku hari ini. Sheila, salahs eorang sahabatku sejak masih
duduk di bangku SMP harus dirawat di rumah sakit. Mama Ranti yang
merupakan Mama dari salah seorang sahabatku bernama Ranti yang juga
sahabatku sejak semasa SD memberitahu berita ini.
"sonia,
udah jenguk sheila?" sepintas aku mengernyitkan kening saat pagi ini
Mama Ranti menanyakan hal itu kepadaku. Sheila
masuk rumah sakit? kenapa aku tidak tau akan hal itu, otakku masih saja
dibanjiri pertanyaan-pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya hingga
kami memutuskan untuk bergegas ke rumah sakit tempat dimana Sheila
dirawat.
Sepanjang jalan kami tak banyak bicara, sibuk dengan benak kami
masing-masing dan kuperhatikan wajah Mama Ranti langsung berubah saat
kutanyakan lebih lanjut. Sontak matanya
berbinar, perasaanku mulai tidak enak. Kegelisahaan saat itu mulai
menghampiriku, suara heels sepatu jelas terdengar mengisi lorong-lorong
yang terlihat sepi pagi ini.
Assalamualaikum, kami mengucapkan salam saat memasuki kamar dimana
Sheila dirawat. Aku terpaku ya benar-benar membisu melihat tubuh temanku
dipenuhi selang-selang yang aku sendiri tidak tau persis apa saja
fungsi masing-masing selang tersebut.
Senyumku terasa berat, tumpahan airmata ini seolah tak kuasa ku tahan
untuk tak menetes. Mulutku masih belum sempat berkata sepatah kata pun
akan
keadaannya, bibir ini seolah membisu, lidah ini kelu. Akhirnya ku
putuskan berlari keluar sejenak, menumpahkan airmata yang tak sanggup
lagi kutahan.
"Sheila divonis dokter terkena kanker abdomen stadium 4 Sonia", Mama
Ranti memelukku dari belakang sambil menangis. Berita itu seperti petir yang
menyambar di siang bolong. Aku memang tau Sheila sakit tapi bukan
kanker, bukan kanker stadium 4.
Sheila bahkan seminggu yang lalu sempat main ke Mega Mall saat butikku
melangsungkan pameran busana. Kami sempat mengobrol, bercanda-tawa tapi
tak berlangsung lama karna ia buru-buru dan aku harus melayani beberapa
pengunjung yang mampir.
Cepat-cepat aku mengusap airmataku seolah
tak mau kehilangan waktu untuk
bersama Sheila. Dia tersenyum saat ku pegang erat tangannya, badanku
mendadak lemas ketika menyadari selang panjang yang ada dihidungnya.
Selang yang digunakan untuk mengeluarkan cairan yang terus keluar dari
perutnya. Perutnya terus saja terasa padat dan kembung, hanya itu yang
ia katakan sambil meringis kesakitan. Sheilaaaaaaaa, ingin
rasanya aku berteriak dan memeluknya, tapi tak bisa.
Allah memang begitu sayang kepadanya, memberikan ujian-ujian untuk
menghapus dosa-dosanya yang lalu karena Sheila memang anak yang sangat
baik. Ya Allah, kami umatmu sadar bahwa ini ujian, tapi berilah
kesembuhan untuk Sheila dan tak hentinya kami berucap syukur atas nikmat
kehidupan yang masih Kau berikan kepada kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar