Rangkaian peristiwa
inilah yang disusun oleh Ahmad Suroso selama menjabat sebagai Pimpinan Redaksi
Harian Tribun Batam sebagai refleksi dari hati ke hati lewat untaian kata
sebagai daya akal pikir kepada pembaca.
Buku ini berisi tentang
berbagai topik yang hangat diperbincangkan publik, kasus lama yang mengerucut
hingga kasus-kasus yang mulai redup karna kalah terang dengan kasus lain. Sikap
kritis, ekspresif, optimis dan kegalauan penulis untuk ‘menyentil’ pihak
berwenang untuk terus mengatasi keadaan turut mewarnai buku ini.
Dimulai dari runtuhnya
keadilan yang menyorot soal kebusukan Gayus, remisi koruptor yang melukai hati
rakyat dan jurus lupa Nunun. Disusul dari pemerintahan soal misteri Kapolri,
evaluasi pendidikan, enaknya jadi pejabat hingga happy ending Sri Mulyani yang
disuguhkan singkat namun padat setiap judulnya.
Denyuk politik dan
perekonomian Kepri tentu saja tidak ketinggalan. Mengupas tentang Pilwako
Batam, lokomotif FTZ, hari-hari tanpa atribut dan BPR yang tumbuh kinclong di
Batam dibahas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca tak perlu
mengernyitkan kening saat membaca buku ini.
Fenomena menarik dari
sekian banyak tulisan penulis adalah mengenai pasang surut hubungan
Indonesia-Malaysia dan habis Kartini terbitlah Jupe beserta artis artis dangdut
lainnya yang ikut mencalonkan diri menjadi bupati/wakil bupati daerah asalnya.
Kompleksitas peristiwa
diatas tentu saja mencuri perhatian pembaca untuk membolak-balik halaman demi
halaman dalam buku ini. Cover yang disajikan menarik tentu saja membuat buku
ini pantas dibaca oleh berbagai kalangan sebagai eneergi posotif atau menambah
wawasan pembaca menuju arah perubahan yang lebih baik. Selamat membaca.
Judul
Buku: Ketika Matahati Bicara
Pengarang:
Ahmad Suroso
Tebal
buku: 288 halaman
Penerbit:
PT Grafika Wangi Kalimantan
Peresensi:
Sonia Adilia, mahasiswi fakultas hukum Universitas Internasional Batam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar